
Emeldah.
Namaku Emeldah.
Pertama kali orang mendengar, mungkin akan terasa aneh. Sejarahnya, nama ini diberikan karna aku dilahirkan pada zaman Imelda Marcos, First Lady of the Philippines, dan mungkin pada saat itu ortuku berpikir, kalau Imelda adalah nama yang keren. Dan kenapa berubah menjadi Emeldah? Hmmm… Itu kesalahan teknis sepertinya, Saudara-Saudara!
Lucunya, nama ini sedikit banyak mempengaruhi jalan hidupku. Aku ingat, sewaktu aku SMP, ketika MOS (Masa Orientasi Siswa), kakak kelasku mengabsen nama kami satu per satu. Tiba giliran membaca namaku, kulihat dengan jelas (waktu itu aku duduk di bangku paling depan), dia mengerenyitkan dahi tanda tak yakin, “e-mel-dah”
Lalu, banyak kejadian-kejadian lainnya menyangkut namaku ini. Mulai dari beberapa anak suka memplesetkan namaku, sampai kejadian-kejadian aneh lainnya yang malas untuk aku ceritakan. Hehehe Dan kejadian-kejadian itu juga menyebabkan aku sedikit malas untuk menyebutkan namaku. Bukan malu, bukan. Aku cukup senang lho dengan nama ini, unik dan ‘ga pasaran’.
Tapi aku cuma malas menyebutkan nama ini berulang kali, karna orang sering kali salah mengejanya.
Sebagai contoh, ketika sedang melakukan transaksi, mbak/mas pelayan toko akan bertanya, “atas nama siapa Mbak?” Lalu seperti biasa, aku menjawab, “Emeldah” atau “Emel”. Trus dijawab lagi, “Maaf?” atau “Imelda?” atau “Amel?” Lalu aku akan menjawab lagi, “Pake E. Pake E” huufff….
Itulah alasan kenapa ketika aku pergi dengan sahabatku, aku lebih suka menyebut nama mereka. Contoh, waktu pergi karoke bersama Rima. Mbak Happup, “Atas nama?”. Aku, “Rima.” Selesai urusan! Atau waktu pergi bersama anak-anak Sumringah. “Atas nama?” “Sari!”. Yang lumayan sering ditanya ulang itu kalau, “Atas nama?” “Cakri.” “Maaf?” “Cakri.” :p (peace Shin…!)
Pernah juga seorang sahabatku bertanya, “Koq namamu singkat? Cuma satu kata? Emang nama kakak-kakakmu juga singkat-singkat?” Trus aku jawab, “Nama kakak perempuanku, Yuliana.” Dia bertanya lagi,”Yuliana? Yuliana aja?”. Aku jawab, “Iya.”. Trus dia bilang, “Wah ortumu ngirit ya klo ngasih nama?” Aku jawab, “nama kakak sulungku, Joni. Cuma empat huruf, J-O-N-I.”
Kalau Sahabat lihat di halaman facebook-ku, nama kakakku sudah jadi Yuliana Fasha. Keren ya? Fasha adalah nama suaminya. Mungkin suatu saat nanti aku akan mengganti nama papaku (Suwandi) dengan nama Harlino. Emeldah Harlino. Hahahaha Trus, nama kakak sulungku, Joni Bae. “Bae” itu dalam bahasa Palembang berarti “Aja”. Tapi aku cukup senang dia menambahkan “Bae” dibelakang namanya. Kalau orang yang tidak tahu arti kata “Bae” mungkin akan mengira kalau kami masih saudaraan dengan aktor Korea, Bae Yong Jun.
Bicara tentang nama, dan karna baru saja menonton Gilmore Girls Season Finale, aku jadi ingat percakapan lucu antara Rory dan Lorelai ketika Lorelai menikah dengan Christopher Hayden (ayahnya Rory).
Rory: “Hey, you didn’t take dad’s name, did you?”
Lorelai: “No. No. ‘Hayden?’ No. I don’t want to be Mrs. Hayden planetarium for the rest of my life. I’m Lorelai Gilmore, okay? Lorelai Gilmore without the ‘Gilmore’ is like… Gil, you know, less.”
Ya, nama adalah sebuah identitas. Orang memanggil kita dengan nama kita. Orang mengenal kita dengan nama itu juga. Itulah alasan mengapa aku menyayangi namaku. Nama Emeldah. Yang terdengar aneh untuk pertama kali. Emeldah, yang kalau kata buku nama, berdekatan dengan nama Melda, yang berarti prajurit wanita. Nama adalah doa.
Aku percaya, nama dan artinya itu penting. Dan yang lebih penting adalah bagaimana kita memaknai doa yang ada di dalam nama itu. Bahkan jika kita tidak tahu apa arti dari nama kita, maka biarlah kita yang memaknai nama itu. Yaitu dengan perilaku kita, sehingga ketika nama itu disebut, orang akan mengingat hal-hal yang baik. Seperti personil band Letto yang mengatakan, bahwa Letto itu berarti tanpa arti. Jadi biarlah mereka yang memaknai filosofi dari nama tersebut.
Dulu, nama yang populer di Jerman adalah Adolf. Tapi sejak terkenalnya Adolf Hitler, maka nama itu menjadi kurang kepopulerannya, bahkan menjadi sangat jarang dipakai. Siapa yang tidak kenal Muhammad? Nama Rasul SAW yang sangat populer. Bahkan kata salah seorang sahabatku, di Arab ada suatu hari yang bernama “Muhammad’s day”, yaitu dimana orang-orang bernama Muhammad berkumpul di suatu taman, dan saling memanggil “Hey Muhammad!”
William Shakespeare pernah berkata, “Apa artinya sebuah nama?” Tapi aku percaya, nama memiliki sebuah arti penting. Islam mengajarkan umatnya untuk memberi nama yang baik pada anak yang baru lahir, tidak memberi nama yang buruk, dan menukar nama yang buruk dengan nama yang baik.
“…Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk …” (QS. al-Hujuraat : 11)

Recent Comments