
Sekarang, ketika sedang mengetik kata-kata ini, pikiranku terbayang pada sesosok laki-laki yang sangat kusayangi. Dia tidak tampan, tidak tinggi dan tidak gagah. Dia hanya seorang laki-laki biasa. Dengan tinggi yang sedang, dengan tubuh yang mulai membungkuk, dan beberapa uban yang terlihat putih di rambutnya.
Laki-laki itu juga tak pernah memakai baju seragam kerjanya, karna ia bukanlah seorang pegawai. Dia juga tak punya gelar, karna ia tidak pernah mengecap bangku kuliah. Hanya tamat SD dan beberapa bulan mengecap bangku SMP. Tapi jangan kau tanya tentang pengetahuannya. Diaa memang tidak sepintar seseorang bergelar master, tapi antusiasnya ketika bercerita tentang sejarah, politik, kehidupan, akan sama seperti kau melihat bayang-bayang seorang pengajar.
Laki-laki itu bukanlah seorang pemimpi. Hanya seorang yang mempunyai integritas. Kejujuran dan ketekunan. Hal yang selalu dia tanamkan kepada anak-anaknya. Karna dia ingin melihat setiap anaknya berhasil. Meskipun dia tak pernah sekolah tinggi, dia sangat berharap setiap anaknya pulang dengan menyandang gelar sarjana. “Jadilah orang pintar!” itu katanya.
Dia tak pernah bicara banyak denganku. Jujur, dia bukanlah orang yang enak untuk diajak curhat. Dia tidak mengerti apa itu internet, apalagi facebook. Tapi dia bisa ngetik sms lho, walau cuma untuk bilang “Dud, uang bulan ini sudah dikirim!”
Laki-laki itu unik. Dia memberiku nama tanpa nama belakang. Sehingga dengan terpaksa, harus kutulis namanya di kolom Last Name sebuah formulir. “Curang!” Pikirku. Walau aku tahu dia tak punya maksud begitu.
Laki-laki itu selalu kubayangkan kehadirannya. Pada setiap khayalku tentang kelulusan, wisuda, pernikahan dan beberapa momen penting lainnya. Ya wajar saja, dia adalah seseorang yang rutin bertanya, “Apa kabar Nak? Gimana kuliah? Kapan lulus?” Atau, “Gimana, udah punya calon belum?”
Ah, laki-laki itu. Laki-laki yang sering membuatku menangis. Bukan karna amarahnya. Karna dia sangat jarang marah. Bukan juga karna kecerewetannya. Meskipun dia juga sangat cerewet.
Laki-laki itu, sering membuatku bersedih karna aku merasa belum bisa membahagiakannya. Karna aku merasa masih sering menyusahkannya. Karna aku tetaplah anak bungsunya yang manja.
Ya Allah, tolong jaga laki-laki itu.Bahagiakan hidupnya. Karuniakan kesehatan padanya. Ridhoi setiap langkahnya.
Beri kesempatan pada hamba untuk membuat dia bangga, ketika dia melihat diri ini dalam balutan toga atau pun gaun pengantin.
Beri kesempatan pada hamba untuk membuat dia bangga, ketika dia melihat diri ini sedang bersiap-siap pergi berangkat ke tempat kerja.
Beri kesempatan pada hamba untuk membuat dia bangga, ketika di tangannya terbaring buah hati diri ini yang ia panggil dengan sebutan cucu.
Beri kesempatan pada hamba Ya Rabb, untuk pergi ke rumah-Mu bersamanya.
Amin, Ya Rabbal Alamin.

Assalamu’alaikum, lama tak besua di blog sahabat satu ni…
UHmmm.. jadi teringat pada sosok almarhum Ayahku yang wafat setaon lalu, Mel. Apalagi ngebaca do’a” yg kmu tulis di akhir postinganmu.. bikin aku sedih
Ada beberapa hal yang belum bisa kuwujudkan pada beliau semasa hidup dan bikin beliau tersenyum bahagia.
…Dibawah batu nisan kini Kau tlah sandarkan, Kasih sayang kamu begitu dalam… “Ya Allah Ampunilah segala dosaku, Serta ampunilah segala dosa kedua orang tuaku, Baik yang kami sadari ataupun tidak disadari, Kasihilah dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika masih kecil”
LIFE MUST GO ON!! Cita2 kudu dilanjutkan, amanah dari Ayah kudu dipelihara, bikin beliau tersenyum bahagia ‘disana’. Smoga ayahku khusnul khotimah.. bahagia slalu dalam peluk-NYA dan karunia rahmat-NYA.. Amiiin ya Rabb..
Makasih utk postinganmu, Mel. Salam hormat utk papamu, buatlah beliau bahagia bersamamu slalu.. bahagia dalam limpahan rahmat dan ridho-NYA.
hei Mas, long time no see… hehehe
makasih juga untuk commentnya mas… semoga kita diberi kesempatan utk jadi anak yg soleh/ah ya… supaya bisa menjadi amal jariyah utk kedua orang tua kita. amin.
paling tepat kalo dibaca sambil dengerin lagunya
Luther Vandross – Dance with my father
“Dance With My Father”
Back when I was a child, before life removed all the innocence
My father would lift me high and dance with my mother and me and then
Spin me around ‘til I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure I was loved
If I could get another chance, another walk, another dance with him
I’d play a song that would never, ever end
How I’d love, love, love
To dance with my father again
When I and my mother would disagree
To get my way, I would run from her to him
He’d make me laugh just to comfort me
Then finally make me do just what my mama said
Later that night when I was asleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he would be gone from me
If I could steal one final glance, one final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love
To dance with my father again
Sometimes I’d listen outside her door
And I’d hear how my mother cried for him
I pray for her even more than me
I pray for her even more than me
I know I’m praying for much too much
But could you send back the only man she loved
I know you don’t do it usually
But dear Lord she’s dying
To dance with my father again
Every night I fall asleep and this is all I ever dream
T_T jadi sedih juga
Jangan sedih2 donk kang… jadiin doa.. semoga ayah2 kita selalu diridhoi sama Allah, amin.
ga
lagu ini dalem banget dud
jadi kebayang aja kalo beliau pergi
trus ibunda menangis
atau sebaliknya
bahkan terpikir juga saat dah bersuami-istri nanti
dalem lah pokonya mah
yup jadi kita kudu selalu berdoa n berusaha ‘menjaga’ yang kita sayang sebisamungkin
semangat!!
amin… semangat kang!!!
kita juga saling menjaga yaaa… brotherhood and sisterhood… hehehe
merinding aku bacanya.
hehehehhee.
sama. Lho?? hehehe
postingan yang membuatku tersadar!
(
sadar banyak dosa Kak? hehehe sama!
ai, dek…..dak tau lg nak ngomong apo
i love my dad, dan kk yakin beliau selalu di hati kk…
senyum, ksabaran dan petuah…
De’, sayangi bapak & ibu ye……always say that you love your dad and you mom
jgn telat kyk kk…(buat mint amaaf be dah dak semapt, apolagi nak bikin bangga)
hikkss.hikss..teringat almarhum bapak
belum sempet ngebahagiain bapak.. *cry*