5 cm

24 03 2009

17.00 WIB 23/03/09

Sekitar setahun yang lalu, aku sering sekali menulis tentang mimpi dan impian.  Aku, pada saat itu, dengan gamblangnya menuliskan tentang pandangan dan cara pikirku tentang mimpi.  Optimisme dan semangat mengebu-gebu juga terlukis dengan jelas di tulisanku, perkataanku dan perilakuku.

Sore ini, setelah banyak hal yang aku alami, aku merasa aku sedang di uji.  Kemarin, aku adalah seorang pemimpi.  Seorang mahasiswi dengan berjuta mimpi.  Banyak hal yang aku lakukan untuk mencapai mimpi-mimpiku. Kadang aku merasa menang, tapi tak jarang aku merasa kalah. Dan mungkin berbagai “kekalahan” dan hambatan-hambatan yang aku alami sekarang sudah mulai bertumpuk.  Aku merasakan susahnya meraih mimpi-mimpi itu.

Contoh mimpi yang pertama, gelar sarjana.   Nah, untuk memenuhi gelar sarjana itu, maka ada satu syarat sakral yang harus aku kerjakan. Skripsi.   Tahukan teman, aku sedang merasakan banyak hambatan dalam proses penulisan skripsiku.  Mulai dari keluguanku menulis ilmiah.  Kaliah tau, aku sampe harus diajari dari S-P-O-K oleh DPS ku pada awal proses pembuatan proposal.  Sekarang, proposal sudah rampung.  Tepatnya, pada bulan November 2008.

Selepas itu, aku harus membuat modul pelatihan.  Karna ketidaktahuanku susahnya membuat modul pelatihan yang berdasarkan kajian ilmiah, aku nekad mengambil tema pelatihan.  Dan alhamdulillah modul itu pun rampung dengan bantuan berbagai pihak.

Kemudian kesulitanku sekarang, mencari perusahaan yang merelakan karyawannya menjadi subjek penelitianku. Bayangkan teman, aku ke perusahaan A, sudah punya janji bertemu, ternyata di cancel.  Bapaknya sibuk.  Lalu aku ke perusahaan B, alhamdulillah, bagian personalianya sangat ramah dan terlihat tertarik dengan niatku.  Beliau berkata, aku silakan menunggu konfirmasi dari perusahaan paling lambat Sabtu siang karna beliau harus mendiskusikan hal ini dengan the-big-boss.   Dan sekarang, Senin sore, aku belum dapet kepastian (Ok, I’ll wait! Sabar Mel….).  Sebagai informasi, aku membutuhkan dua perusahaan, bukan satu.  Satu untuk penelitian, satu untuk uji coba penelitian.

Dan untuk uji coba penelitian, aku mencoba ke perusahaan C.  Tadi siang aku kesana, setelah mondar-mandir mencari alamat kantor yang tak berplang nama itu dan yang jauuuuhhh banget juga, aku bertemu dengan seorang mbak yang juteknya minta ampun.  Sabar Mel, sabar…  Dan besok, aku berencana bergeriliya ke perusahan D, E, atau F. Dan aku juga sudah menghubungi beberapa perusahaan, sebut aja G, H, I atau J via telepon.  Dan hasilnya juga, waduh… Ada yang tak berbalas, ada yang malah disuruh ke Semarang. Sampe aku mikir, “Segitu susahnya ya klo kita ga punya ‘orang dalem’?”

09.00 WIB 24/03/09

Hummm… Akhirnya setelah tidur yang lamaaa… Aku merasa agak baikan.  Kemaren tulisan ini sempet terhenti karna aku merasa agak ga enak badan.  Huff… Tapi semalem seneng banget.  Ada seorang sahabat dateng ke kos.  Kita ngobrol-ngobrol.  Dan dia memberiku semangat.  Bahwa aku tetap harus berjuang.  Bahwa aku tak perlu takut.  Ada Yang Maha yang akan selalu membantuku.

Yah… Klise memang.  Kata-kata yang sering kali kita dengar.  Tapi memang benar.  Dan hal itu sempat aku “lupakan” akhir-akhir ini.  Aku merasa “jauh” dari-Nya.  Sampai aku merasa sangat capek dan stres sendiri.  Aku bahkan tidak merasakan lagi makna dari ayat-Nya, Kun Fayakun.  Sejauh itukah aku dengan-Mu Ya Rabb?

Dan, mungkin beberapa dari temenku sudah tahu, kalau sebenarnya aku belum membaca buku yang berjudul 5 cm.  Tapi kok kali ini judul tulisannya 5 cm ?? Ya, karna sempet stres jadinya kemaren pulang dari kantor perusahaan C, aku mampir ke shoping.  Disana aku melihat buku 5 cm. Dan ga tau kenapa, kemaren waktu liat review di belakangnya, aku tertarik buat membeli.

Memang sih, aku belum selesai bacanya.  Baru sekilas.  Tapi dari prolog-nya, aku menyimpulkan bahwa buku ini juga menceritakan tentang mimpi.  Ada catatan dari penulisnya, Donny Dhirgantoro, ketika buku ini melewati cetakan kesepuluh (Yampun Mel, buku udah beberapa kali cetakan baru mau lo baca?? Kemana aja lo?? Hehehe).

setelah melewati cetakan kesepuluh…

Sebuah email dari seorang pembaca mengungkapkan, bagaimana 5 cm telah mengubah hidupnya dan membuat dia lebih berani mengejar ke depan mengejar mimpi-mimpinya. Bagaimana karena 5 cm dia merasa bahwa kita harus bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, karena masih banyak orang yang kurang beruntung daripada kita ……………..

5 cm telah melewati cetakan ke-10, sebuah pencapaian yang saya sendiri bingung untuk mempercayainya.  Saya secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan para pembaca yang telah meluangkan hatinya untuk 5 cm.  Pembaca yang telah menjadikan 5 cm seperti sebuah mimpi – sesuatu yang ada dan patut diperjuangkan.

………………

Jakarta, 13 Maret 2008

Setiap hari, yang terbaik… semoga

Donny Dhirgantoro

Jujur, kata-kata di atas benar-benar menginspirasiku.  Di samping support dari sahabatku semalam yang merelakan beberapa menit waktunya untuk memberiku semangat.  Seakan dia dikirim oleh Allah untuk mengingatkanku.  Tak ada sesuatu yang kebetulan bukan?

Ya, sekali lagi, mimpi.  Terkadang memang susah untuk dicapai.  Dengan berbagai macam hambatan.  Terkadang, kita kalah, kita menang.  Apapun hasilnya itu, yang pasti kita harus tetap percaya, bahwa Dia sedang mempersiapkan yang terbaik untuk kita.

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia. (Q.S. Al Baqarah: 117)





Luruskan Niat

19 03 2009

Tali Kokoh


(by: Salim A. Fillah)

membersamai orang-orang shalih
memang perintah Allah
memang keniscayaan bagi ikrar taqwa
***
tetapi meletakkan harapan
atau menggantungkan kebaikan diri padanya
pada sosok itu
adalah kesalahan
dan kekecewaan..
***
seorang sahabat berkata padaku
“aku ingin menikah
dengannya.. hanya dengannya..”
aku bertanya mengapa
“agar ia menjadi imamku..
agar ia membimbingku..
agar ia mengajariku arti ikhlas dan cinta
agar ia membangunkanku shalat malam
agar ia membersamaiku
dalam santap buka yang sederhana”
***
“ahh.. itulah masalahnya”, kataku
***
dan dia kini tahu
bahwa khawatirku benar.
bahwa sosok lelaki penyabar yang dia kenal
juga bisa marah, bahkan sering.
bahwa sosok lelaki shalih yang dia damba
kadang sulit dibangunkan untuk
shalat shubuh berjama’ah.
bahwa lelaki yang menghafal juz-juz Al Quran itu
tak pernah menyempatkan diri
mengajarinya a ba ta tsa..
***
“ahh.. itulah masalahnya”
***
semakin mengenali manusia
yang makin akrab bagi kita
pastilah aib-aibnya.
sedang mengenali Allah
pasti membuat kita
mengakrabi kesempurnaanNya.
***
maka gantungkanlah harapan
dan segala niat untuk menjadi baik
hanya padaNya
hanya padaNya..
***
jadilah ia tali kokoh yang mengantar pada bahagia dan surga.





Transgendered

13 03 2009

Pagi!!!

Ok… Abis nyasar dari blog seseorang yang tidak kukenal aku terinspirasi untuk menulis ini.  Dari judulnya, terlihat ‘berat’ ya? Ga kok, aku bukan mau ngebahas transgendered dari sisi psikologi yang sangat ilmiah. Karna aku inget kata-kata seorang temen yang bilang dia suka baca blogku tapi ga suka klo aku nulis tentang topik psikologi, berat katanya. Huuu dasar pemalas.  :p

Jadi inget adegan film Love,,,

Digambarkan Tere Wijaya (Luna Maya) dan Awin (Darius Sinathrya) sedang duduk berhadapan,,,

Action!!!

Awin: “Hidup itu bagaikan toko buku. Di dalamnya ada bacaan-bacaan ringan sampe bacaan berat.  Tapi kebanyakan orang dateng cuma untuk mencari buku yang ringan-ringan aja.”

Tere: “Kamu memang penulis! Aku nyerah!”

Cut!!!

Ok, kembali ke Transgendered. Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari obrolan dengan salah seorang sahabat. Dia bilang klo bintang iklan salah satu produk cream wajah yang dibikin bersambung kayak sinetron beberapa bulan lalu (bukan yang paling baru), model ceweknya itu bukan cewek, tapi cowok!!! Karna penasaran, jadi aku nyoba buat googling dengan keyword banci thailand.  Dan emang aku ga dapet hasil yang menguatkan gosip dari sahabat saya itu, tapi saya malah nyasar ke blog-blog dan situs yang membahas tentang hal itu. Dan ternyata benar, ternyata the-lady-boy dari Thailand itu emang cantik-cantik banget. Beberapa forum juga menyatakan bahwa emang sudah sering banget para the-lady-boy itu membintangi iklan-iklan produk seperti shampoo, pasta gigi, dan sebagainya. Dan malah di Thailand sendiri ada kontes untuk para lady-boy ini yang disebut dengan Miss Tiffany.

2006 Miss Tiffany winner Tong Rattawee

2006 Miss Tiffany winner Tong Rattawee

Sebenarnya tujuanku nulis ini, selain ingin berbagi sama beberapa temen yang masih belum tahu tentang hal beginian, juga pengen yaa sekedar bersuara (suara dengarkan akuuuu… lho kok malah nyanyi?) klo aku merasa agak miris dengan kenyataan bahwa banyak iklan yang memakai the-lady-boy sebagai bintang iklannya, tapi di sisi lain iklan itu setengah mengintimidasi para wanita dengan menanamkan pernyataan bahwa cewek cantik itu yang begini, begini, dan begini.. Hufff… Duniaaa memang panggung sandiwara. :)





Slumdog Millionaire

13 03 2009

Slumdog Millionaire

Slumdog Millionaire

“Emel sumpah keren nian film slum dog millionaire ^^ im crying”

Receive: 01:54:58, 06/03/2009

Sms itu aku terima  dari seorang sahabat, membuatku penasaran pengen nonton, seperti apa sih film ini?? Dan, di tengah sela-sela kesibukanku (sok sibuk…!!!), semalem aku nonton film ini… Dan ternyata benar!!! Yeah, you were right Honey, Slumdog Millionaire is a great movie!!!

Cerita bermula dari seorang bernama Jamal Malik (Dev Patel) yang ditahan polisi karena dituduh telah berbuat curang di kuis Who Wants to Be a Millionaire (Kaun Banega Crorepati). Tapi setelah itu, cerita film ini berlanjut ke flashback masa kecil Jamal yang membuat dia bisa menjawab satu persatu pertanyaan itu.  Film ini mengungkap sisi “hitam” kehidupan India dan benar-benar bikin hati terenyuh (terharu,, mengharu biru.. apalah itu!!).

Gimana engga, contohnya waktu di awal pertanyaan, ketika dia bisa menjawab nama Amitabh Bachan pada pilihan jawaban, itu disebabkan karna perjuangan masa kecilnya yang “euh…” (temen2 bisa nonton sendiri untuk mengartikan arti kata “euh…” ini, :p) untuk mendapatkan tanda tangan artis idolanya itu. Lalu cerita perjuangan dia meneruskan hidup dengan kakaknya (dan seorang sahabat perempuan, yang pada akhirnya menjadi wanita yang paling ia cintai) karna orang tuanya yang ikut mati terbunuh di peristiwa “1993 anti muslim attack“; sempat dimanfaatkan dengan gangster, hidup terlunta-lunta, mencuri, prostitusi dan semua sisi kelam kehidupan ia jalani.

Satu pesan moral yang tersirat,, bahwa ada yang namanya “takdir” dalam kehidupan kita. Seperti title card pada pembukaan film: “Jamal Malik is one question away from winning 20 million rupees. How did he do it? A) He cheated, B) He’s lucky, C) He’s a genius, D) It is written.” And the answer is, “D) It is written”





Sejuta Rindu Untuknya

1 03 2009

papa

Sekarang, ketika sedang mengetik kata-kata ini, pikiranku terbayang pada sesosok laki-laki yang sangat kusayangi.  Dia tidak tampan, tidak tinggi dan tidak gagah. Dia hanya seorang laki-laki biasa.   Dengan tinggi yang sedang, dengan tubuh yang mulai membungkuk, dan beberapa uban yang terlihat putih di rambutnya.

Laki-laki itu juga tak pernah memakai baju seragam kerjanya, karna ia bukanlah seorang pegawai.  Dia juga tak punya gelar, karna ia tidak pernah mengecap bangku kuliah.  Hanya tamat SD dan beberapa bulan mengecap bangku SMP. Tapi jangan kau tanya tentang pengetahuannya. Diaa memang tidak sepintar seseorang bergelar master,  tapi antusiasnya ketika bercerita tentang sejarah, politik, kehidupan, akan sama seperti kau melihat bayang-bayang seorang pengajar.

Laki-laki itu bukanlah seorang pemimpi.   Hanya seorang yang mempunyai integritas. Kejujuran dan ketekunan. Hal yang selalu dia tanamkan kepada anak-anaknya.  Karna dia ingin melihat setiap anaknya berhasil.  Meskipun dia tak pernah sekolah tinggi, dia sangat berharap setiap anaknya pulang  dengan menyandang gelar sarjana. “Jadilah orang pintar!” itu katanya.

Dia tak pernah bicara banyak denganku.  Jujur, dia bukanlah orang yang enak untuk diajak curhat. Dia tidak mengerti apa itu internet, apalagi facebook. Tapi dia bisa ngetik sms lho, walau cuma untuk bilang “Dud, uang bulan ini sudah dikirim!”

Laki-laki itu unik.  Dia memberiku nama tanpa nama belakang. Sehingga dengan terpaksa, harus kutulis namanya di kolom Last Name sebuah formulir. “Curang!” Pikirku. Walau aku tahu dia tak punya maksud begitu.

Laki-laki itu selalu kubayangkan kehadirannya.  Pada setiap khayalku tentang kelulusan, wisuda, pernikahan dan beberapa momen penting lainnya. Ya wajar saja, dia adalah seseorang yang rutin bertanya, “Apa kabar Nak? Gimana kuliah? Kapan lulus?” Atau, “Gimana, udah punya calon belum?”

Ah, laki-laki itu. Laki-laki yang sering membuatku menangis. Bukan karna amarahnya. Karna dia sangat jarang marah. Bukan juga karna kecerewetannya.  Meskipun dia juga sangat cerewet.

Laki-laki itu, sering membuatku bersedih karna aku merasa belum bisa membahagiakannya.  Karna aku merasa masih sering menyusahkannya.  Karna aku tetaplah anak bungsunya yang manja.

Ya Allah, tolong jaga laki-laki itu.Bahagiakan hidupnya.  Karuniakan kesehatan padanya. Ridhoi  setiap langkahnya.
Beri kesempatan pada hamba untuk membuat dia bangga, ketika dia melihat diri ini dalam balutan toga atau pun gaun pengantin.
Beri kesempatan pada hamba untuk membuat dia bangga, ketika dia melihat diri ini sedang bersiap-siap pergi berangkat ke tempat kerja.
Beri kesempatan pada hamba untuk membuat dia bangga, ketika di tangannya terbaring buah hati diri ini yang ia panggil dengan sebutan cucu.
Beri kesempatan pada hamba Ya Rabb, untuk pergi ke rumah-Mu bersamanya.
Amin, Ya Rabbal Alamin.