
17.00 WIB 23/03/09
Sekitar setahun yang lalu, aku sering sekali menulis tentang mimpi dan impian. Aku, pada saat itu, dengan gamblangnya menuliskan tentang pandangan dan cara pikirku tentang mimpi. Optimisme dan semangat mengebu-gebu juga terlukis dengan jelas di tulisanku, perkataanku dan perilakuku.
Sore ini, setelah banyak hal yang aku alami, aku merasa aku sedang di uji. Kemarin, aku adalah seorang pemimpi. Seorang mahasiswi dengan berjuta mimpi. Banyak hal yang aku lakukan untuk mencapai mimpi-mimpiku. Kadang aku merasa menang, tapi tak jarang aku merasa kalah. Dan mungkin berbagai “kekalahan” dan hambatan-hambatan yang aku alami sekarang sudah mulai bertumpuk. Aku merasakan susahnya meraih mimpi-mimpi itu.
Contoh mimpi yang pertama, gelar sarjana. Nah, untuk memenuhi gelar sarjana itu, maka ada satu syarat sakral yang harus aku kerjakan. Skripsi. Tahukan teman, aku sedang merasakan banyak hambatan dalam proses penulisan skripsiku. Mulai dari keluguanku menulis ilmiah. Kaliah tau, aku sampe harus diajari dari S-P-O-K oleh DPS ku pada awal proses pembuatan proposal. Sekarang, proposal sudah rampung. Tepatnya, pada bulan November 2008.
Selepas itu, aku harus membuat modul pelatihan. Karna ketidaktahuanku susahnya membuat modul pelatihan yang berdasarkan kajian ilmiah, aku nekad mengambil tema pelatihan. Dan alhamdulillah modul itu pun rampung dengan bantuan berbagai pihak.
Kemudian kesulitanku sekarang, mencari perusahaan yang merelakan karyawannya menjadi subjek penelitianku. Bayangkan teman, aku ke perusahaan A, sudah punya janji bertemu, ternyata di cancel. Bapaknya sibuk. Lalu aku ke perusahaan B, alhamdulillah, bagian personalianya sangat ramah dan terlihat tertarik dengan niatku. Beliau berkata, aku silakan menunggu konfirmasi dari perusahaan paling lambat Sabtu siang karna beliau harus mendiskusikan hal ini dengan the-big-boss. Dan sekarang, Senin sore, aku belum dapet kepastian (Ok, I’ll wait! Sabar Mel….). Sebagai informasi, aku membutuhkan dua perusahaan, bukan satu. Satu untuk penelitian, satu untuk uji coba penelitian.
Dan untuk uji coba penelitian, aku mencoba ke perusahaan C. Tadi siang aku kesana, setelah mondar-mandir mencari alamat kantor yang tak berplang nama itu dan yang jauuuuhhh banget juga, aku bertemu dengan seorang mbak yang juteknya minta ampun. Sabar Mel, sabar… Dan besok, aku berencana bergeriliya ke perusahan D, E, atau F. Dan aku juga sudah menghubungi beberapa perusahaan, sebut aja G, H, I atau J via telepon. Dan hasilnya juga, waduh… Ada yang tak berbalas, ada yang malah disuruh ke Semarang. Sampe aku mikir, “Segitu susahnya ya klo kita ga punya ‘orang dalem’?”
09.00 WIB 24/03/09
Hummm… Akhirnya setelah tidur yang lamaaa… Aku merasa agak baikan. Kemaren tulisan ini sempet terhenti karna aku merasa agak ga enak badan. Huff… Tapi semalem seneng banget. Ada seorang sahabat dateng ke kos. Kita ngobrol-ngobrol. Dan dia memberiku semangat. Bahwa aku tetap harus berjuang. Bahwa aku tak perlu takut. Ada Yang Maha yang akan selalu membantuku.
Yah… Klise memang. Kata-kata yang sering kali kita dengar. Tapi memang benar. Dan hal itu sempat aku “lupakan” akhir-akhir ini. Aku merasa “jauh” dari-Nya. Sampai aku merasa sangat capek dan stres sendiri. Aku bahkan tidak merasakan lagi makna dari ayat-Nya, Kun Fayakun. Sejauh itukah aku dengan-Mu Ya Rabb?
Dan, mungkin beberapa dari temenku sudah tahu, kalau sebenarnya aku belum membaca buku yang berjudul 5 cm. Tapi kok kali ini judul tulisannya 5 cm ?? Ya, karna sempet stres jadinya kemaren pulang dari kantor perusahaan C, aku mampir ke shoping. Disana aku melihat buku 5 cm. Dan ga tau kenapa, kemaren waktu liat review di belakangnya, aku tertarik buat membeli.
Memang sih, aku belum selesai bacanya. Baru sekilas. Tapi dari prolog-nya, aku menyimpulkan bahwa buku ini juga menceritakan tentang mimpi. Ada catatan dari penulisnya, Donny Dhirgantoro, ketika buku ini melewati cetakan kesepuluh (Yampun Mel, buku udah beberapa kali cetakan baru mau lo baca?? Kemana aja lo?? Hehehe).
setelah melewati cetakan kesepuluh…
Sebuah email dari seorang pembaca mengungkapkan, bagaimana 5 cm telah mengubah hidupnya dan membuat dia lebih berani mengejar ke depan mengejar mimpi-mimpinya. Bagaimana karena 5 cm dia merasa bahwa kita harus bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, karena masih banyak orang yang kurang beruntung daripada kita ……………..
5 cm telah melewati cetakan ke-10, sebuah pencapaian yang saya sendiri bingung untuk mempercayainya. Saya secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan para pembaca yang telah meluangkan hatinya untuk 5 cm. Pembaca yang telah menjadikan 5 cm seperti sebuah mimpi – sesuatu yang ada dan patut diperjuangkan.
………………
Jakarta, 13 Maret 2008
Setiap hari, yang terbaik… semoga
Donny Dhirgantoro
Jujur, kata-kata di atas benar-benar menginspirasiku. Di samping support dari sahabatku semalam yang merelakan beberapa menit waktunya untuk memberiku semangat. Seakan dia dikirim oleh Allah untuk mengingatkanku. Tak ada sesuatu yang kebetulan bukan?
Ya, sekali lagi, mimpi. Terkadang memang susah untuk dicapai. Dengan berbagai macam hambatan. Terkadang, kita kalah, kita menang. Apapun hasilnya itu, yang pasti kita harus tetap percaya, bahwa Dia sedang mempersiapkan yang terbaik untuk kita.
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia. (Q.S. Al Baqarah: 117)





Recent Comments