
Rescue me before I lose control
Rescue me from this fire in my soul
There’s only you who can stop me from falling
I need a saviour, need my saviour
(Saviour-Anggun C Sasmi)
Tentu sahabat sudah mengenal istilah sindrom “impian cinderella” yang ada pada hampir setiap diri seorang wanita. Gambarannya adalah bahwa seorang wanita itu dari dalam hatinya punya impian-impian khas dongeng putri-putrian, seorang pangeran tampan atau istilah abad 21-nya adalah “mr.right” akan datang dengan kuda putih dan pedang (berarti kalau dianalogikan jaman sekarang dengan mobil mewah dan dompet tebal? hahahaha kidding!), dan kemudian mereka akan hidup bahagia selamanya.
Lalu bagaimana dengan lelaki? Ternyata, setelah saya mengobservasi perilaku-perilaku para lelaki di sekeliling saya, saya berpikir bahwa ternyata mereka juga terkena suatu sindrom yang disebut dengan “saviour complex”. Sebuah kecendrungan menjadi seorang pahlawan atau hero dimata orang lain.
Hal ini mungkin terjadi karena di masa kecil, wanita selalu dibuai dengan cerita putri-putrian atau fairytale sedangkan kaum lelaki itu besar dengan cerita superhero dalam benak mereka. Sedari kecil, kita (atau kebanyakan orang) ditanamkan bahwa seorang laki-laki itu adalah hero atau penolong kaum yang kesusahan dan kasihannya, seorang wanita biasanya menjadi kaum yang kesusahan itu. Contohnya, Cinderella dan Putri Salju yang disiksa oleh ibu tiri yang jahat dan kedua-duanya diselamatkan oleh pangeran yang tampan. Huff… Padahal ga juga sih, ga semua ibu tiri jahat dan ga semua wanita tertindas, bahkan ga semua lelaki itu adalah pahlawan, hehehe peace!
Kecendrungan saviour complex itu bisa menjadi hal yang buruk dan bisa juga menjadi hal yang baik. Yah bukankah semua hal di dunia ini begitu hukumnya? Sebilah pisau jika digunakan untuk memotong daging maka akan menjadi manfaat, tetapi bila digunakan untuk membunuh orang maka akan menjadi mudharat. Begitu pula dengan sindrom ini.
Jika seorang lelaki menggunakannya untuk bersikap pahlawan dengan menjadi ‘teman’ curhat yang baik bagi wanita bersuami, “kamu tenang aja, meskipun suamimu itu jahat, kan ada aku disini yang nemenin kamu..” (Lho?? :p ), Maka hal itu bisa bahaya bagi kelangsungan dunia dan akhirat!
Tetapi, jika sifat kepahlawanan itu digunakan untuk mencegah kebathilan, maka hal itu InsyaAllah akan menjadi kebaikan bagi kita semua.
Aku jadi ingat perbincangan dengan seorang sahabatku waktu itu. Aku bertanya, “Kenapa setiap cowok itu sering banget ngerasa kalau mereka harus berbuat sesuatu jika melihat sesuatu yang menurut mereka ga beres? Kenapa sindrom saviour complex di dalam diri mereka begitu besar?” Dan, kau tau, jawabannya, “Karna kalau tidak ada yang bertindak, maka dunia akan semakin hancur.”
Ya, semua kembali lagi ke niat. Semoga sahabat-sahabat saya yang kena sindrom ini, mempunyai niat yang tulus untuk mencegah yang buruk dan membuat keadaan dunia menjadi semakin baik, bukan karna hanya sekedar ingin dianggap pahlawan. Dan sahabat-sahabat saya yang wanita (dan semoga termasuk diri saya sendiri), bisa ikut mencegah kemungkaran di dunia ini dengan caranya sendiri. Dengan perasaan yang begitu peka yang dianugrahkan-Nya, sehingga tetap bisa menjaga keharmonisan di tengah kekacauan.
“Heal the world, make it a better place!”
Ayo sahabatku, Bangun! Bergerak! Mari kita wujudkan dunia yang lebih baik. “Karna kalau tidak ada yang bertindak, maka dunia akan semakin hancur.” Kita punya banyak sekali alat untuk mengubahnya. Dengan tangan kita, dengan lisan kita dan dengan hati kita. Dan satu hal yang paling penting, mari kita ubah dengan CINTA. Tanpa prasangka, tanpa dendam dan tanpa amarah. Kita bahu membahu, saling menyayangi, saling mengingatkan, saling melindungi. InsyaAllah, dunia yang lebih baik, ada di tangan kita. Amin.
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, bila tidak mampu, ubahlah dengan lisannya dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman” (HR Muslim)
Recent Comments