Dia, Ya Rabb…

16 12 2008

Dia adalah orang yang ingin kusayangi dalam kekurangannya.

Dia adalah orang yang ingin kusanjung dalam keterpurukannya.

Dia adalah orang yang ingin kurawat dalam kesakitannya.

Dia adalah orang yang ingin kutegarkan hatinya dalam kesedihannya.

Dia adalah orang yang ingin kuhibur dalam ketidakberdayaannya.

Dia adalah orang yang ingin kumuliakan setelah Rasul dan orang tuaku.

Dia, ya Rabb, orang yang kuinginkan untuk membimbingku menuju surga-Mu.

Amin.





Hanya Ingin Berbagi, episode 3

15 12 2008

Kemarin malem, saya mendapat undangan untuk menghadiri acara beautyclass bersama seorang sahabat.  Sejujurnya,  acara ini merupakan hal yang baru bagi saya.  Bukan karena saya tidak pernah hadir di beautyclass sebelumnya, tapi karena acara ini merupakan acara beautyclass “ibu-ibu” yang pertama kali saya datangi. Ya, hampir lebih dari separuh peserta yang datang semalam sebaya dengan ibu saya.

Pertama sampai disana, saya lumayan merasa ‘kagok’.  Apalagi, saya memakai pakaian yang sangat biasa, seperti orang yang mau ke pasar swalayan.  Sangat berbeda dengan tante-tante disana yang tampil cantik dan anggun.  :)

Saya duduk di barisan yang agak belakang bersama sahabat saya (yang adalah seorang laki-laki!), dan mencoba untuk mengikuti acara itu dengan sebaik-baiknya.  Toh, saya berpikir, meskipun saya merasa ‘kagok’ disinii, pasti saya akan mendapatkan suatu pelajaran.

Dan benar saja, setelah duduk manis di belakang sambil memperhatikan Chenny Han merias seorang model, saya tertegun dengan kata-kata yang disampaikannya malam itu.  Kurang lebih Chenny mengatakan bahwa kita jangan cepat mempercayai iklan produk kecantikan di TV yang sering kali menjanjikan kecantikan secara instan.  Chenny, make up artist sekalipun, mengatakan bahwa mereka bukanlah pesulap yang dapat membuat wajahmu menjadi cantik dalam sekejap. Semuanya butuh proses.

Sebagai contoh, ketika sedang membuat perjanjian dengan seorang klien yang minta dirias di hari pernikahannya, Chenny biasanya akan meminta klien tersebut bekerja sama agar klien tersebut merawat kulitnya sebelum hari H.  Supaya pada saat hari H, hasil makeup-nya juga maksimal.  Jadi, jangan berpikir bahwa make up bisa men”dempul” kuliat wajah yang tidak terawat. Begitulah kita-kira.

Pelajaran yang saya ambil malam itu adalah, bahwa dalam dunia apapu, hasil yang instan itu tidak akan begitu baik.  Sesuatu yang dipersiapkan jauh-jauh hari akan memiliki hasil yang lebih maksimal.  Dalam belajar, Sistem Kebut Semalam, tentu tak lebih baik dari jauh-jauh hari.  Begitu pula dengan para buku yang menjanjikan “Menguasai Bahasa Inggris dalam 60 Jam” atau “Cara Cepat Membaca Alquran Hanya dalam 1 Jam”,  Atau janji obat pelangsing tubuh, “badan ramping dalam seminggu” dan sebagainya.  Mungkin memang ada metode yang mengajarkan sesuatu dengan cara cepat dan praktis.  Tapi bukan berarti semua bisa kita kuasai dengan cara instan.  Bukan begitu teman-teman?





Twilight

15 12 2008



“You are not asleep, and you are not dead.  I am here, and I love you.  I have always love you. I was thinking of you, seeing your face in my mind, every second that I was away.”

–Twilight, page: 510–





Saviour Complex

6 12 2008

Rescue me before I lose control
Rescue me from this fire in my soul
There’s only you who can stop me from falling
I need a saviour, need my saviour
(Saviour-Anggun C Sasmi)

Tentu sahabat sudah mengenal istilah sindrom “impian cinderella” yang ada pada hampir setiap diri seorang wanita. Gambarannya adalah bahwa seorang wanita itu dari dalam hatinya punya impian-impian khas dongeng putri-putrian, seorang pangeran tampan atau istilah abad 21-nya adalah “mr.right” akan datang dengan kuda putih dan pedang (berarti kalau dianalogikan jaman sekarang dengan mobil mewah dan dompet tebal? hahahaha kidding!), dan kemudian mereka akan hidup bahagia selamanya.

Lalu bagaimana dengan lelaki? Ternyata, setelah saya mengobservasi perilaku-perilaku para lelaki di sekeliling saya, saya berpikir bahwa ternyata mereka juga terkena suatu sindrom yang disebut dengan “saviour complex”. Sebuah kecendrungan menjadi seorang pahlawan atau hero dimata orang lain.

Hal ini mungkin terjadi karena di masa kecil, wanita selalu dibuai dengan cerita putri-putrian atau fairytale sedangkan kaum lelaki itu besar dengan cerita superhero dalam benak mereka. Sedari kecil, kita (atau kebanyakan orang) ditanamkan bahwa seorang laki-laki itu adalah hero atau penolong kaum yang kesusahan dan kasihannya, seorang wanita biasanya menjadi kaum yang kesusahan itu. Contohnya, Cinderella dan Putri Salju yang disiksa oleh ibu tiri yang jahat dan kedua-duanya diselamatkan oleh pangeran yang tampan. Huff… Padahal ga juga sih, ga semua ibu tiri jahat dan ga semua wanita tertindas, bahkan ga semua lelaki itu adalah pahlawan, hehehe peace!

Kecendrungan saviour complex itu bisa menjadi hal yang buruk dan bisa juga menjadi hal yang baik. Yah bukankah semua hal di dunia ini begitu hukumnya? Sebilah pisau jika digunakan untuk memotong daging maka akan menjadi manfaat, tetapi bila digunakan untuk membunuh orang maka akan menjadi mudharat. Begitu pula dengan sindrom ini.

Jika seorang lelaki menggunakannya untuk bersikap pahlawan dengan menjadi ‘teman’ curhat yang baik bagi wanita bersuami, “kamu tenang aja, meskipun suamimu itu jahat, kan ada aku disini yang nemenin kamu..” (Lho?? :p ), Maka hal itu bisa bahaya bagi kelangsungan dunia dan akhirat! :) Tetapi, jika sifat kepahlawanan itu digunakan untuk mencegah kebathilan, maka hal itu InsyaAllah akan menjadi kebaikan bagi kita semua.

Aku jadi ingat perbincangan dengan seorang sahabatku waktu itu. Aku bertanya, “Kenapa setiap cowok itu sering banget ngerasa kalau mereka harus berbuat sesuatu jika melihat sesuatu yang menurut mereka ga beres? Kenapa sindrom saviour complex di dalam diri mereka begitu besar?” Dan, kau tau, jawabannya, “Karna kalau tidak ada yang bertindak, maka dunia akan semakin hancur.”

Ya, semua kembali lagi ke niat. Semoga sahabat-sahabat saya yang kena sindrom ini, mempunyai niat yang tulus untuk mencegah yang buruk dan membuat keadaan dunia menjadi semakin baik, bukan karna hanya sekedar ingin dianggap pahlawan. Dan sahabat-sahabat saya yang wanita (dan semoga termasuk diri saya sendiri), bisa ikut mencegah kemungkaran di dunia ini dengan caranya sendiri. Dengan perasaan yang begitu peka yang dianugrahkan-Nya, sehingga tetap bisa menjaga keharmonisan di tengah kekacauan.

“Heal the world, make it a better place!”

Ayo sahabatku, Bangun! Bergerak! Mari kita wujudkan dunia yang lebih baik. “Karna kalau tidak ada yang bertindak, maka dunia akan semakin hancur.” Kita punya banyak sekali alat untuk mengubahnya. Dengan tangan kita, dengan lisan kita dan dengan hati kita. Dan satu hal yang paling penting, mari kita ubah dengan CINTA. Tanpa prasangka, tanpa dendam dan tanpa amarah. Kita bahu membahu, saling menyayangi, saling mengingatkan, saling melindungi. InsyaAllah, dunia yang lebih baik, ada di tangan kita. Amin.

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, bila tidak mampu, ubahlah dengan lisannya dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman” (HR Muslim)





Hanya Ingin Berbagi, episode 2

2 12 2008

Ok, sebelumnya aku udah cerita tentang seminar yang aku ikutin. Seminar itu jatuh pada tanggal 30 November. Dan apakah kau tahu kawan, bahwa tanggal 30 November adalah hari ulang tahun Pak Dekan Psikologi tercinta. Yah, sudah rahasia umum kalau Pak Dekan itu adalah salah satu dosen idola di kampus psikologi. Kampus dengan mayoritas wanita-wanita tangguh dengan jumlah laki-laki yang minoritas, membuat pak dekan yang sudah beristri dan punya dua anak itu tetap menjadi idola. :p

Waktu itu, pada saat di dalam seminar, aku dan seorang temanku (yang juga mengidolakan Pak Dekan yang-ganteng-pintar-dan berwibawa itu) sedang membahas ultahnya Pak Dekan.

“Ada mobilnya ga?”

“Ga da, bapaknya ga dateng. Kan hari ini Minggu.”

Oh, yasudahlah. ‘Kalau begitu, seperti dua tahun lalu, kita email saja bapaknya.’ Psstt… Kalau tahun lalu, kita dateng ke kantornya lho buat ngucapin langsung… Segitu nge-fans-nya… :)

Trus, pulang seminar, kita berdua mau makan. Laper. Karna snack yang disediain cuma berhasil menganjal perut selama dua jam saja. Setelah perdebatan panjang, akhirnya kita memutuskan makan di salah satu restoran Pizza Waralaba.

Tau apa yang terjadi disana? Ada Pak Dekan yang-ganteng-pintar-dan-berwibawa itu! Beliau sedang makan bersama istri dan kedua anak perempuannya. Dan dengan cueknya, kita berdua mendekat ke meja mereka. Menyalami istri, trus si bapak dan dua anaknya. Sekaligus ngucapin selamat ulang tahun untuk si Bapak.

Trus, ketika lagi asyik makan di meja lain, tiba-tiba anak bungsu Pak Dekan yang-ganteng-pintar-dan-berwibawa itu mendekat sambil bawa bungkusan, trus ngomong “Mbak, ini ada salad dari bapak.”

Wah, senangnyaa…. :) Sahabatku bilang, ini adalah efek the-secret. Efek pikiran. Jadi dari seminar tadi kita udah pingin banget ketemu sama si Bapak buat ngucapin ultah. Trus, waktu memutuskan untuk pergi makan dimana, kita sempet binggung, tapi akhirnya ga-tau-kenapa malah ke restoral Pizza Waralaba yang menguras kantong anak kos ini. Kemudian, waktu ngeliat meja salad, kalian tau apa yang aku pikirin? Aku pengen salad! Tapi ga jadi pesen. Karna takut ntar kekenyangan, selain itu juga mikir karna itu bakal lebih menguras kantong anak kos!

Hmmm… Keajaiban kecil lagi, Bukan?





Hanya Ingin Berbagi, episode 1

2 12 2008

Hmm.. Udah lama ga nulis blog. Rasanya dari kemaren-kemaren pengen banget nulis, tapi belum ada topik yang sreg di hati. Lagian aku juga lagi sibuk menulis sesuatu. Sesuatu yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan. Huehuehe Sok banget ya? :p

Mungkin tulisan kali ini ga ada topik yang spesifik, hanya ingin berbagi aja. Padahal dulu, aku termasuk orang yang ga suka curhat di blog lho. :) Ya mungkin ini bukan curhat, hanya sekedar coret-coret. Kasian nih blog, makin lama makin sepi. Maaph ya Temen2…

Cerita di mulai seminggu terakhir ini, waktu itu aku datang ke ruangan seorang dosen yang aku sayangi dan hormati, aku mau konsultasi. Biasa, konsultasi tulisan yang aku ceritain di paragraf pertama tadi. Trus, disana aku merasa berat banget karna seperti biasa, dosen yang aku sayangi dan hormati itu, kembali mengkritik habis-habisan. Tapi, beneran deh, ga ada sama sekali rasa kesal di hatiku. Karna aku tau, ini untuk kebaikanku juga. Peace Bu… :)

Disana, aku menyodorkan draft modul pelatihan yang kubuat. Ternyata, sesuai dugaan, aku sama sekali belum bisa buat modul yang baik dan benar. Aku binggung. Aku sudah berusaha minta tolong sama kakak-kakak di magister yang berilmu lebih. Tapi tetap saja, aku binggung. Tiba-tiba, aku melihat poster di depan ruangan sang dosen, pengumuman adanya seminar “How to Design Excellent Training” tanggal 30 November. Kalian tau apa yang aku pikirkan teman-teman? Bahwa pertolongan Allah itu sungguh sangat dekat.

Kenapa poster itu ditempel pas di dekat ruangan si ibu dosen di saat aku udah jarang banget muter-muter di kampus? Kenapa tanggal seminarnya 30 November, bukan bulan depan? Atau tahun depan yang tinggal berapa bulan lagi? Aku percaya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Bahkan sehelai daun yang jatuh dari pohon pun pasti atas izin Tuhannya. Lalu siapa yang mengatur itu? Yah, itulah keajaiban-Nya. Terkadang kita memang tidak sadar akan keajaiban-keajaiban kecil di sekeliling kita.