Takut. Sebuah perasaan alamiah yang dirasakan oleh semua orang. Sahabat pasti pernah merasakan takut bukan? Entah itu takut hantu, takut terbang, takut tidak naik kelas (jaman2nya sekolah dulu nih!), takut dimusuhi teman, takut gagal ujian, takut ditinggal pacar, dan sebagainya. Banyak sekali ketakutan-ketakutan yang menyerang diri kita. Manusiawi. Tapi jangan sampai ketakutan itu berlebihan. Itu paranoid namanya.
Perasaan takut itu, (pertama) ada yang terjadi ketika seseorang berhadapan langsung dengan sesuatu hal yang mengancamnya, dan (kedua), ada juga yang terjadi sebelum (atau sebenarnya malah tidak akan terjadi) hal yang dirasa mengancam tersebut. Sebagai contoh ketakutan pertama adalah ketika sedang lari pagi, seseorang melihat seekor ular besar di pinggir jalan . Perasaan takut itu muncul ketika dia berhadapan sedang dengan ular itu. Dan contoh ketakutan yang kedua, ketika seorang anak SD yang sebelum mengambil rapor-nya, merasa takut tidak naik kelas. Padahal bisa saja, ketika rapor itu diambil, ternyata dia naik kelas. Fear and Anxiety.
Yang ingin aku bahas disini adalah ketakutan yang kedua. Yaitu yang terjadi sebelum peristiwa mengancam itu terjadi. Kecemasan. Anxiety. Itulah mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan rasa takut ini. Kenapa kita bisa merasa cemas? Merasa takut dengan hal-hal yang belum tentu terjadi? Ketidakpastian. Ketidaktahuan. Itulah mungkin yang menyebabkan kita merasa takut. Seorang anak takut tidak naik kelas, karna belum pasti, apakah dia naik kelas atau tidak. Karna dia tidak tahu, apakah dia naik kelas atau tidak.
Jadi ingat perkataan seorang Ibu kepadaku dulu. Dia pernah berkata,”Andai aku tahu kalau aku akan meninggal sebentar lagi, maka aku pasti ga mau lagi kerja. Biar di rumah saja, main sama anak-anakku. Mengurus suamiku…”. Tapi karna dia tak tahu kapan dia meninggal, dia masih bekerja. Dia masih berupaya mewujudkan mimpi-mimpinya. Andai kita tahu, apakah perjuangan kita akan berhasil atau tidak, tentu tidak akan terasa menantang. Misalnya, ketika seseorang tahu bahwa ia akan lulus ujian masuk PTN, maka ia tidak akan belajar sebaik-baiknya. Begitu pula ketika ia sudah tahu kalau ia akan gagal. Terkadang, ketidaktahuan itu membuat kita takut, tapi terkadang ketidaktahuan itu membuat kita terus berusaha sebaik-baiknya.
“Bekerjalah kamu seakan kamu akan hidup selamanya dan beribadahlah kamu seakan kamu akan mati besok.”
Balik lagi ke bahasan takut. Seorang sahabatku pernah bercerita, ketika dia mengikuti suatu pelatihan, dia disuruh mengeluarkan pikiran-pikiran yang membuat partner-nya di pelatihan itu merasa takut. Misalnya “Bagaimana jika mobilmu ditabrak orang?” “Bagaimana jika kamu gagal dalam ujian?” “Bagaimana jika pacarmu pergi meninggalkanmu?” dan bagaimana-bagaimana yang lain. Dan partner-nya bertugas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya sampai waktunya habis. Inti dari permainan itu adalah, bahwa tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya. Semuanya mempunyai jawaban.
Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
(QS.94:5)
Aku baru saja membaca sebuah buku rekomendasi dari seorang sahabat, Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah. Ada satu bab yang aku suka (Yang Aku tahu, Allah bersamaku. Hal:239-247), yang menceritakan kisah-kisah Rasul Ulul ‘Azmi (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad). Disana dituliskan tentang ketidaktahuan dari para Nabi itu tentang apa yang akan menimpa mereka.
Nuh yang bersusah payah membangun perahu, harus menahan geram ketika ditertawakan, diganggu dan dirusuh oleh kaumnya. Nuh belum tahu bahwa banjur akan tumpah. Yang ia tahu, ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu, ia laksanakan perintah Rabb-Nya, maka Allah bersamanya.
Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putra tercinta. Dibaringkannya sang putera yang pasrah dalam taqwa. Ayah yang mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayu leher sang putra dengan pisau? Ibrahim melakukannya! Ia melakukannya meskipun belum tahu bahwa seekor domba besar akan menggantikan sang anak.
Musa juga menemui jalan buntu, terantuk laut Merah dalam kejaran Fir’aun. Petunjuk pun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata,”Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke Fir’aun!” Ya, bahkan Musa pun belum tahu bahwa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. Dan itu cukup baginya.
Ya, begitulah cara terbaik mengatasi ketakutan karna ketidaktahuan dan ketidakpastian yang menyerang diri. Kita memang tak tahu apa yang terjadi besok, tapi jangan pernah lupa bahwa kita selalu bersama Sang Maha Tahu. Dan Dia, akan memberi petunjuk pada hamba yang dikasihi-Nya.
Wallahu a’lam bishshawab.


Ya Mel….
Seni kita hidup salah satunya memang ketidakpastian….
karena dari itu kita diberi pikiran dan perasaan, pikiran untuk memanage konsekuensi apapun yang terjadi dan perasaan untuk merasakan atau bisa dibilang intuisi….
Tau ga kenapa Allah tidak memberi tahu kita apa yang akan terjadi didepan?
Karena kita ditugaskan untuk mengubah nasib kita sendiri….
Allah menentukan hasilnya….
Tapi kita juga yang mengusahakannya….
Jangan pernah takut untuk melakukan yang terbaik sekarang….
Dan lakukan dengan Ikhlas….
terakhir kita hanya tawakal dan bersyukur….
A thought of mine….
Your good friend,
rodra
ada kata2 di buku itu yg menjelaskan ttg rencana…
“Sekelam apapun langit malam, hidup kita esok, jodoh kita esok, rizki kita esok; semua harus direncanakan. Kita merencanakan, untuk menyesuaikan diri dengan rencana Allah…. Karena manusia yang menjalani hidupnya seperti air mengalir, mungkin lupa bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.”
thx ya Ro…
Takdir ALLAH = Tekad kita + keinginan ALLAH
so..optimislah selalu..
kehidupan memang silih berganti… ada suka dukanya… akan tetapi jika kita pahami “wa’asa antakrohu syai’an wahua khoiron lakum, wa ‘asa antuhibbu syai’an wahua syarrun lakum” (Al Baqarah:216)
kita akan mengeri betapa indahnya hidap ini, jangan pernah Syu’udzon kepada-Nya. cukup bagiku Allah.
dud…
kalo malam cukup gelap baru kita bisa ngeliat bintang kan…
hahaha…
^_^
itmam: yup2,, Allah selalu menurut prasangka hamba-Nya…
Kid: thx Bang,,, semakin gelap malam, maka semakin dekat kita dengan fajar… habis gelap, terbitlah terang
Assalamualaikum Mel.
Awalnya gw mau mencari lirik lagu Opick yg berjudul Cukup Bagiku Allah, gw mencari di mesin pencari Google eh ga taunya nyasar ke blog ini.
Karena gw suka dengan kata2 ” Cukup Bagiku Allah”, akhirnya gw lanjutin baca, dan menakjubkan sekali isinya. Allah yubarik fik, meld.
Tulisan ini udah mengubah cara gw berpikir tentang ketidakpastian dan ketidaktahuan.
“Cukup Baguku Allah, Segalanya Untukku
Tidak ada Tuhan selain, Allah Cukup Bagiku Allah.”
Wassalam.
Ralat:
“Cukup Baguku Allah, Segalanya Untukku
Tidak ada Tuhan selain, Allah Cukup Bagiku Allah.”
menjadi:
“Cukup Baguku Allah, Segalanya Untukku
Tidak ada Tuhan selain Allah, Cukup Bagiku Allah.”
Hehehe kesalahan dah di perbaiki.
sering2 mampir Mas…
Butuh perjuangan dan kesabaran untuk membuka blog ini, knapa ya blog yg lain koq cepat sekali d buka?