
Skripsi. Sebuah kata yang sangat akrab denganku sekarang. Sebuah kata yang bukan sekedar kata, tapi juga sebuah tugas, perjuangan dan permainan. Kenapa kubilang permainan? Panjang ceritanya. Tapi baiklah, mari kita ceritakan sajalah…
Sebelum memulai cerita, tolong izinkan aku untuk curcol dulu.:p
Sebenarnya, aku sekarang sedang merasa kesulitan untuk mengerjakan skripsiku ini. Dengan kemampuan yang masih harus terus dibenahi, pengalaman NOL menulis karya ilmiah berbobot, tentu ini bukanlah suatu tugas yang mudah. Berbekal kritik dari pembimbingku yang sangat keibuan, aku merasa terpacu untuk mengerjakan ini dengan sebaik-baiknya (secepatnya juga? Semoga! Doain saja ya! Amin).
Karna skripsiku ini dalam bentuk pelatihan eksperimen, maka aku diharuskan untuk membuat modul pelatihan itu. Ternyata, kemampuanku sebagai anak S1 dan juga minimnya pengetahuan caranya buat modul pelatihan yang ilmiah maka aku memerlukan bantuan orang yang lebih berkompeten. Aku putuskan untuk meminta bantuan kepada kakak-kakak seniorku di S2.
Dan aku bertemu dengan seorang yang bersedia membantuku. Dia adalah mahasiswa S2 Sains Psikologi. Dia adalah seorang trainer dan educator di bidang anak dengan basic pengetahuan adalah S1 Matematika. Di awali dengan diskusi singkat beberapa hari yang lalu, aku mengungkapkan permasalahan-permasalahanku.
Ada yang menggelitikku ketika sedang berbicara dengannya. Dia mengatakan, “Kurangi waktu mainmu Mel.” Menurutnya, dengan usia sekarang, aku sudah harus memikirkan karir. Memikirkan kehidupanku nanti mau dibawa kemana. Berusaha yang sebaik-baiknya dalam mengerjakan sesuatu. Fokus. Fokus ke skripsi. Ke kuliah. Ke kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Karna, jika aku masih banyak mainnya, maka “tugas perkembangan”ku akan banyak.
Apa itu “tugas perkembangan”? Kucoba untuk kujelaskan sedikit, mohon bantuan teman2 mengkritik bila ada salah ya? Dalam hidup, kita ada usia sebenarnya dan usia mental. Usia sebenarnya adalah usia yang sering kita tulis di formulir, biodata dan sebagainya. Dan usia mental, menurut Binet, adalah suatu level perkembangan mental individual dibandingkan orang lain. Ilustrasinya, dengan usia sebenarnya 21 tahun, belum tentu orang itu mempunyai usia mental 21 tahun juga. Mungkin karna itu makanya ada istilah, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”.
Jadi maksudnya, jika aku tak terus memperbaiki diri dan bekerja keras, maka suatu saat aku akan merasa kesulitan sendiri karna usia mentalku akan lebih rendah dari usia sebenarnya. Aku harus ekstra lembur untuk memperbaiki diriku jika aku dulunya hanya sibuk bermain-main. Bukankah hidup kita adalah pembelajaran tiada henti? Maka jika waktu belajar itu kau sia-siakan, maka siap-siaplah untuk menyediakan ekstra waktu untuk mengejar ketinggalanmu. Kira-kira begitulah.
Lalu, aku bertanya padanya, “apakah kita jadi tidak boleh bermain-main? Memberikan refreshing bagi diri kita? “ Dia menjawab boleh-boleh saja. Tapi bukan dengan mengisi hidup kita dengan hal-hal yang tidak berguna. Dia menjelaskan, bahwa kita mempunyai lima indra dalam hidup. Ada mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, lidah untuk mengecap, hidung untuk membau dan kulit untuk merasa. Hal itulah yang menghubungkan diri kita dengan hal-hal di luar. Dan satu lagi, kita punya, pikiran. Untuk membuat pikiran itu tetap terjaga, maka jagalah kelima indra itu. Misalnya: dengankarlah lagu2 yang memberi inspirasi (misalnya: Laskar Pelangi-Nidji) bukan lagu-lagu yang membuat suasana hatimu menjadi mellow-ga-jelas, buku-buku yang bagus, obrolan-obrolan berisi, film-film yang berbobot (Setuju dengan Nana, Menolak Sinetron…!!! — But, Sorry, Dude is undeniable!
) dan sebagainya. Supaya pikiran kita tetap terjaga oleh hal-hal positif.
Dan lanjutnya, ubah cara pikirmu tentang apa definisi dari bermain. Bermain bukan cuma nongkrong dan ngobrol-ngobrol ga jelas atau menghabiskan waktu menonton serial TV sampai berjam-jam. Tapi, dengan membaca buku-buku bagus, jadikan itu permainan kita. Dengan obrolan-obrolan yang berbobot, itu adalah permainan kita. Dengan menonton film yang menginspirasi, itu juga jenis permainan kita. Dan marilah, untuk semua temanku yang sedang pusing menghadapi skripsi, mari jadikanlah skripsi itu permainan kita. Caranya? Diri kita sendiri tahu koq bagaimana caranya. So, nikmati sajalah, OK?
TETAP SEMANGAT!
TETAP BERKARYA!
“Barang siapa yang tidak menyibukkan diri dengan kebaikan,
niscaya ia akan disibukkan dengan keburukan”
Recent Comments