Diam

15 11 2008

Bukan maksudku diam.
Bukan maksudku bungkam.

Aku hanya memberi waktu,
pada nalarku dan nalarmu.
Sebelum hati ini membatu,
terbuai oleh rasa yang semu.

Bukan maksudku diam.
Bukan maksudku bungkam.

Sakit, menggigit.
Menusuk, merasuk.
Tak puas sampai ambang pertahanan terlemah.

Bisa kau bayangkan Kawan?

Ah, kau tak pernah tahu.
Karna bukan aku yang sebenarnya acuh.

Jadi biarkan aku diam.
Jadi biarkan aku bungkam.

Dan biarkan juga ini menjadi rahasia,
hanya antara aku dan Dia.





Mari Bermain!

11 11 2008

Skripsi. Sebuah kata yang sangat akrab denganku sekarang. Sebuah kata yang bukan sekedar kata, tapi juga sebuah tugas, perjuangan dan permainan. Kenapa kubilang permainan? Panjang ceritanya. Tapi baiklah, mari kita ceritakan sajalah…

Sebelum memulai cerita, tolong izinkan aku untuk curcol dulu.:p

Sebenarnya, aku sekarang sedang merasa kesulitan untuk mengerjakan skripsiku ini. Dengan kemampuan yang masih harus terus dibenahi, pengalaman NOL menulis karya ilmiah berbobot, tentu ini bukanlah suatu tugas yang mudah. Berbekal kritik dari pembimbingku yang sangat keibuan, aku merasa terpacu untuk mengerjakan ini dengan sebaik-baiknya (secepatnya juga? Semoga! Doain saja ya! Amin).

Karna skripsiku ini dalam bentuk pelatihan eksperimen, maka aku diharuskan untuk membuat modul pelatihan itu. Ternyata, kemampuanku sebagai anak S1 dan juga minimnya pengetahuan caranya buat modul pelatihan yang ilmiah maka aku memerlukan bantuan orang yang lebih berkompeten. Aku putuskan untuk meminta bantuan kepada kakak-kakak seniorku di S2.

Dan aku bertemu dengan seorang yang bersedia membantuku. Dia adalah mahasiswa S2 Sains Psikologi. Dia adalah seorang trainer dan educator di bidang anak dengan basic pengetahuan adalah S1 Matematika. Di awali dengan diskusi singkat beberapa hari yang lalu, aku mengungkapkan permasalahan-permasalahanku.

Ada yang menggelitikku ketika sedang berbicara dengannya. Dia mengatakan, “Kurangi waktu mainmu Mel.” Menurutnya, dengan usia sekarang, aku sudah harus memikirkan karir. Memikirkan kehidupanku nanti mau dibawa kemana. Berusaha yang sebaik-baiknya dalam mengerjakan sesuatu. Fokus. Fokus ke skripsi. Ke kuliah. Ke kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Karna, jika aku masih banyak mainnya, maka “tugas perkembangan”ku akan banyak.

Apa itu “tugas perkembangan”? Kucoba untuk kujelaskan sedikit, mohon bantuan teman2 mengkritik bila ada salah ya? Dalam hidup, kita ada usia sebenarnya dan usia mental. Usia sebenarnya adalah usia yang sering kita tulis di formulir, biodata dan sebagainya. Dan usia mental, menurut Binet, adalah suatu level perkembangan mental individual dibandingkan orang lain. Ilustrasinya, dengan usia sebenarnya 21 tahun, belum tentu orang itu mempunyai usia mental 21 tahun juga. Mungkin karna itu makanya ada istilah, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”.

Jadi maksudnya, jika aku tak terus memperbaiki diri dan bekerja keras, maka suatu saat aku akan merasa kesulitan sendiri karna usia mentalku akan lebih rendah dari usia sebenarnya. Aku harus ekstra lembur untuk memperbaiki diriku jika aku dulunya hanya sibuk bermain-main. Bukankah hidup kita adalah pembelajaran tiada henti? Maka jika waktu belajar itu kau sia-siakan, maka siap-siaplah untuk menyediakan ekstra waktu untuk mengejar ketinggalanmu. Kira-kira begitulah.

Lalu, aku bertanya padanya, “apakah kita jadi tidak boleh bermain-main? Memberikan refreshing bagi diri kita? “ Dia menjawab boleh-boleh saja. Tapi bukan dengan mengisi hidup kita dengan hal-hal yang tidak berguna. Dia menjelaskan, bahwa kita mempunyai lima indra dalam hidup. Ada mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, lidah untuk mengecap, hidung untuk membau dan kulit untuk merasa. Hal itulah yang menghubungkan diri kita dengan hal-hal di luar. Dan satu lagi, kita punya, pikiran. Untuk membuat pikiran itu tetap terjaga, maka jagalah kelima indra itu. Misalnya: dengankarlah lagu2 yang memberi inspirasi (misalnya: Laskar Pelangi-Nidji) bukan lagu-lagu yang membuat suasana hatimu menjadi mellow-ga-jelas, buku-buku yang bagus, obrolan-obrolan berisi, film-film yang berbobot (Setuju dengan Nana, Menolak Sinetron…!!!But, Sorry, Dude is undeniable! :P ) dan sebagainya.  Supaya pikiran kita tetap terjaga oleh hal-hal positif.

Dan lanjutnya, ubah cara pikirmu tentang apa definisi dari bermain. Bermain bukan cuma nongkrong dan ngobrol-ngobrol ga jelas atau menghabiskan waktu menonton serial TV sampai berjam-jam. Tapi, dengan membaca buku-buku bagus, jadikan itu permainan kita. Dengan obrolan-obrolan yang berbobot, itu adalah permainan kita.  Dengan menonton film yang menginspirasi, itu juga jenis permainan kita. Dan marilah, untuk semua temanku yang sedang pusing menghadapi skripsi, mari jadikanlah skripsi itu permainan kita.  Caranya? Diri kita sendiri tahu koq bagaimana caranya. So, nikmati sajalah, OK? :)

TETAP SEMANGAT!

TETAP BERKARYA!

“Barang siapa yang tidak menyibukkan diri dengan kebaikan,

niscaya ia akan disibukkan dengan keburukan”





“Cukup Bagiku Allah” Quote…

11 11 2008

“Nuh belum tahu bahwa banjir nantinya tumpah
ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai.

Ibrahim belum tahu bahwa akan tercawis domba
ketika pisau nyaris memapas buah hatinya.

Musa belum tahu bahwa lautan akan terbelah
saat ia diperintahkan memukulkan tongkat.

Di Badar Muhammad berdoa, bahunya teruncang isak
‘Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!’

Dan kita pun belajar, alangkah agungnya iman.”

(Salim A. Fillah)





Cukup Bagiku Allah

9 11 2008

Takut. Sebuah perasaan alamiah yang dirasakan oleh semua orang. Sahabat pasti pernah merasakan takut bukan? Entah itu takut hantu, takut terbang, takut tidak naik kelas (jaman2nya sekolah dulu nih!), takut dimusuhi teman, takut gagal ujian, takut ditinggal pacar, dan sebagainya. Banyak sekali ketakutan-ketakutan yang menyerang diri kita. Manusiawi. Tapi jangan sampai ketakutan itu berlebihan. Itu paranoid namanya.

Perasaan takut itu, (pertama) ada yang terjadi ketika seseorang berhadapan langsung dengan sesuatu hal yang mengancamnya, dan (kedua), ada juga yang terjadi sebelum (atau sebenarnya malah tidak akan terjadi) hal yang dirasa mengancam tersebut. Sebagai contoh ketakutan pertama adalah ketika sedang lari pagi, seseorang melihat seekor ular besar di pinggir jalan . Perasaan takut itu muncul ketika dia berhadapan sedang dengan ular itu. Dan contoh ketakutan yang kedua, ketika seorang anak SD yang sebelum mengambil rapor-nya, merasa takut tidak naik kelas. Padahal bisa saja, ketika rapor itu diambil, ternyata dia naik kelas. Fear and Anxiety.

Yang ingin aku bahas disini adalah ketakutan yang kedua. Yaitu yang terjadi sebelum peristiwa mengancam itu terjadi. Kecemasan. Anxiety. Itulah mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan rasa takut ini. Kenapa kita bisa merasa cemas? Merasa takut dengan hal-hal yang belum tentu terjadi? Ketidakpastian. Ketidaktahuan. Itulah mungkin yang menyebabkan kita merasa takut. Seorang anak takut tidak naik kelas, karna belum pasti, apakah dia naik kelas atau tidak. Karna dia tidak tahu, apakah dia naik kelas atau tidak.

Jadi ingat perkataan seorang Ibu kepadaku dulu. Dia pernah berkata,”Andai aku tahu kalau aku akan meninggal sebentar lagi, maka aku pasti ga mau lagi kerja. Biar di rumah saja, main sama anak-anakku. Mengurus suamiku…”. Tapi karna dia tak tahu kapan dia meninggal, dia masih bekerja. Dia masih berupaya mewujudkan mimpi-mimpinya. Andai kita tahu, apakah perjuangan kita akan berhasil atau tidak, tentu tidak akan terasa menantang. Misalnya, ketika seseorang tahu bahwa ia akan lulus ujian masuk PTN, maka ia tidak akan belajar sebaik-baiknya. Begitu pula ketika ia sudah tahu kalau ia akan gagal. Terkadang, ketidaktahuan itu membuat kita takut, tapi terkadang ketidaktahuan itu membuat kita terus berusaha sebaik-baiknya.

“Bekerjalah kamu seakan kamu akan hidup selamanya dan beribadahlah kamu seakan kamu akan mati besok.”

Balik lagi ke bahasan takut. Seorang sahabatku pernah bercerita, ketika dia mengikuti suatu pelatihan, dia disuruh mengeluarkan pikiran-pikiran yang membuat partner-nya di pelatihan itu merasa takut. Misalnya “Bagaimana jika mobilmu ditabrak orang?” “Bagaimana jika kamu gagal dalam ujian?” “Bagaimana jika pacarmu pergi meninggalkanmu?” dan bagaimana-bagaimana yang lain. Dan partner-nya bertugas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya sampai waktunya habis. Inti dari permainan itu adalah, bahwa tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya. Semuanya mempunyai jawaban.

Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
(QS.94:5)

Aku baru saja membaca sebuah buku rekomendasi dari seorang sahabat, Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah. Ada satu bab yang aku suka (Yang Aku tahu, Allah bersamaku. Hal:239-247), yang menceritakan kisah-kisah Rasul Ulul ‘Azmi (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad). Disana dituliskan tentang ketidaktahuan dari para Nabi itu tentang apa yang akan menimpa mereka.

Nuh yang bersusah payah membangun perahu, harus menahan geram ketika ditertawakan, diganggu dan dirusuh oleh kaumnya. Nuh belum tahu bahwa banjur akan tumpah. Yang ia tahu, ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu, ia laksanakan perintah Rabb-Nya, maka Allah bersamanya.

Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putra tercinta. Dibaringkannya sang putera yang pasrah dalam taqwa. Ayah yang mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayu leher sang putra dengan pisau? Ibrahim melakukannya! Ia melakukannya meskipun belum tahu bahwa seekor domba besar akan menggantikan sang anak.

Musa juga menemui jalan buntu, terantuk laut Merah dalam kejaran Fir’aun. Petunjuk pun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata,”Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke Fir’aun!” Ya, bahkan Musa pun belum tahu bahwa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. Dan itu cukup baginya.

Ya, begitulah cara terbaik mengatasi ketakutan karna ketidaktahuan dan ketidakpastian yang menyerang diri. Kita memang tak tahu apa yang terjadi besok, tapi jangan pernah lupa bahwa kita selalu bersama Sang Maha Tahu. Dan Dia, akan memberi petunjuk pada hamba yang dikasihi-Nya.

Wallahu a’lam bishshawab.