Airport

29 09 2008

Disini, di airport Soekarno Hatta… sebelum memasuki terminal keberangkatan, berderet toko di kanan kiri jalan. Ada beberapa toko buku dan majalah, warung makan, toko souvernir, bahkan diramaikan dengan kehadiran kounter parfum import dan stan sumbangan di sepanjang jalan. Seperti biasa, penuh dengan kesibukan dan aktivitas orang-orang. Ada yang tergesa-gesa. Mungkin sudah hampir ketinggalan pesawat. Ada juga yang masih duduk bersantai karna pesawatnya delay, atau menunggu penerbangan berikutnya yang masih beberapa jam lagi. Beberapa yang tidak menunaikan ibadah puasa, terlihat sedang makan di warung makan, atau sedang asyik merokok di smoking area.

Kalau dipikir-pikir, airport ini mengandung filosofi kehidupan juga… berbagai macam orang, berbagai macam kesibukan, berbagai kepentingan, berbagai suku, berbagai sifat, berbagai tujuan, bertemu, berkumpul disini. Ada yang sendirian, ada juga yang bersama dengan orang-orang yang disayanginya. Yang sendirian, biasanya akan mulai berusaha mencari teman. Mengajak bicara orang yang baru dikenal. Yang beramai-ramai, sibuk bersama rombongannya. Ada juga yang sibuk menyendiri mungkin sekaligus menyegarkan pikiran. Atau mungkin juga sedang berefleksi diri. Ada juga yang sedang bermunajat dengan Tuhannya. Lengkap. Dan yang membuatnya lebih unik, semua terjadi dengan sangat cepat. Ada pertemuan, ada perpisahan. Ada awal, ada akhir.

Ada satu hal yang menarik perhatianku. Ketika aku masuk ke terminal keberangkatan, aku melihat seorang anak kecil. Usianya mungkin sekitar enam-tujuh tahunan. Tapi dia bertingkah seperti anak dua tahun. Retardasi mental sepertinya. Dia sibuk melihat-lihat sekelilingnya dengan mata yang sama polosnya dengan mata seorang balita, dan sesekali dia tertawa. Di tangan anak itu ada sebuah handphone yang sedang memutar lagu-lagu. Ayahnya, dengan setia mengikuti kemana saja langkahnya pergi. Sesekali ayahnya memanggil ,”Adek kesini, Adek…”. Atau “Ayo Adek kesini ikut bapak, lihat pesawat yuk, lihat pesawat…”

“Mau kemana Dek?” tanyaku ketika si adek berjalan mendekat ke dekat tempat dudukku.

“Mau ke Jambi Mbak,” jawab ayahnya.

Aku tersenyum kepada beliau.

Sorot matanya, sorot mata seorang ayah yang ia berikan kepada anaknya. Dengan segala kekurangan anaknya, tak sedikit pun ada kasih sayang yang kurang dari sorot mata itu.

“Cuma berdua Pak?”

“Ga Mbak, sama ibunya,” katanya sambil menunjuk ke arah seorang ibu memakai kerudung putih yang sedang duduk di kursi.

Lalu sang ayah dan si adek pun sibuk berjalan-jalan kembali. Ketika aku mulai mengetik tulisan ini, mereka sekeluarga pindah duduk di kursi di hadapanku. Si adek masih sibuk dengan ‘kesibukannya’. Mengetuk-ngetuk kursi, mendengarkan lagu di hape, berkeliling kesana kemari. Sesekali dia merengek tak jelas, lalu si ibu berkata “Mau kemana Sayang?” atau sang ayah akan kembali mengikuti maunya si anak dan tak lama kemudian terlihat memangku anaknya di samping ibunya. Hmmm… Ayah dan ibu itu, terlihat begitu menyayangi anak mereka. Dan aku melihat, di balik kesibukan airport ini, ada keluarga kecil yang bahagia dengan segala kekurangannya.

*Jakarta, 24 September 2008. “Sekedar catatan kecil dari hasil menunggu di airport” :)





Laskar Pelangi

21 09 2008

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

Dari novelnya, lalu kemudian muncul soundtrack-nya,, Laskar Pelangi tetap sama… Inspiring. Jadi ga sabar nunggu filmnya….

*Keabisan kata2 untuk Laskar Pelangi.. (garuk2 kepala: mode on)





Hati

15 09 2008

“Ingatlah di dalam jasad manusia itu ada sepotong daging, tatkala sepotong daging itu baik, baiklah jasad keseluruhannya dan tatkala rusak (sepotong daging itu), maka rusaklah jasad keseluruhannya. Ingatlah dia itu hati”

(Hadits Riwayat An Nu’man bin Basyiir – Mustafaqu alaih)

Betapa penting ternyata peranan hati ini.  Semua tindakan, baik dan buruk, niatnya berasal dari hati.  Di dalam hati juga terdapat suara hati, yaitu suara yang menuntun kita  dalam kehidupan kita di dunia.  Suara yang jika kita perhatikan, ternyata bersumber dari Asmaul Husna. Dimana hati akan merasa tenang melihat sesuatu yang indah karna sifat Dia Yang Maha Indah, atau hari akan merasa tak nyaman ketika kita bertindak atau melihat sesuatu yang curang karna sifat-Nya Yang Maha Adil dan sebagainya.

Perhatikan.  Kata yang aku garis bawahi di atas.  Aku ingat ketika seorang teman membahas kata “perhatikan” yang ditulis di beberapa ayat di dalam Al Qur’an.  Kenapa harus perhatikan? Karna kita disuruh melihat  yang ada dengan hati.  Kenapa bukan permatakan?  Bukankah kita melihat sesuatu dengan mata?  Subahanallah… Karna ternyata kita bukan hanya disuruh melihat tetapi kita juga disuruh untuk “membaca”.  “Membaca” apa yang ada, apa yang terjadi dan apa yang ingin disampaikan-Nya.  Dan untuk bisa membaca itu semua, kita harus memperhatikan (dengan hati).

Sebuah karya akan terasa indah jika dibuat dengan hati.  Lagu, film, musik, lukisan, puisi, semuanya.  Jika teman-teman memperhatikan, karya yang berasal dari hati, dengan pengorbanan dan totalitas, akan terasa sangat bermakna.  Sebuah pekerjaan, akan terasa menyenangkan jika dilaksanakan dengan setulus hati.  Dan rasa cinta dan sayang yang berasal dari hati, juga akan terasa sangat menyentuh.

Wallahu a’lam bishshawab.





Cantik

13 09 2008
beautiful

beautiful

Dunia adalah perhiasan.

Dan seindah-indah perhiasan adalah wanita yang shalehah.

………………………………………..

Cantik. Satu kata. Yang mempunyai banyak sekali persepsi. Ya, menelisik dari pernyataan Om Albert Einstein, tentang teori relativitasnya yang sangat terkenal itu, maka beberapa orang mencoba untuk menghubung-hubungkan semua hal dengan relativitas sehingga muncullah pernyataan umum bahwa “cantik itu relatif.”

Tidak bisa 100% disalahkan karna tidak ada bentuk baku dari definisi cantik itu sendiri. Sewaktu punya ide buat nulis tentang cantik, aku mencoba bertanya dengan beberapa teman laki (baca: cowok) tentang apa itu cantik dan bagaimana. Banyak jawaban dari mereka. Berbagai definisi. Tapi tak bisa dipungkiri, karna berkat komposisi otak cowok yang mirip, ada benang merahnya juga.

Tapi yang perlu dihargai adalah pernyataan mereka yang senada mengatakan bahwa cantik itu bukan cuma fisik. Ada kecantikan hati, sifat, kepribadian dan sebagainya. Walaupun pada akhirnya, mereka akan kembali mengatakan bahwa “ga bisa dipungkiri sih Mel, fisik itu juga penting.” Gimana sih??

Pesona wanita itu memang beragam. Ada yang bilang, wanita tomboy itu cantik. Ada juga yang suka wanita yang feminim yang sangat lembut. Ada yang menyukai wanita sedikit ‘nakal’. Ada yang suka wanita tegar dan mandiri. Ya kembali lagi, ke selera masing-masing. Bahkan, menurut iklan sebuah deterjen, seorang istri akan terlihat cantik ketika sedang mencuci pakaian. Ok, bisa diterima. Relativitas. :)

Definisi cantik itu pun berubah-ubah dari zaman ke zaman. Dulu, kaki wanita chinese yang diikat dan memakai sepatu yang sangat kecil sehingga kaki akan berukuran sangat kecil juga (foot binding) akan dianggap sebagai salah satu pesona kecantikan wanita. Sekarang, dengan mode yang selalu berubah-ubah, maka definisi cantik lebih sulit di-ajeg-kan. Tapi, dengan pengaruh media dan lingkungan, maka muncullah stereotype yang sama tentang cantik. Bahwa cantik itu berarti hidung mancung, putih, bentuk badan proposional, rambut bagus terawat dan sebagainya.

Beberapa icon kecantikan juga bermuncullan. Mulai dari zaman dahulu sekali seperti Cleopatra dan Nevertiti. Sampai zaman sekarang seperti Rianti, Tamara, Sandra Dewi, Asmirandah, Cinta Laura dan teman-teman (ini contoh versi artis Indonesianya!). Atau Charlize Theron dan Aishwaria Rai yang diimport dari luar. Hehehehe

Lalu bagaimana dengan wanita yang tidak memiliki fisik seperti stereotype cantik? Semua kembali ke pribadi masing-masing. Bagi yang bersyukur dengan pemberian-Nya, kemudian merawat apa yang telah dianugrahkan padanya, maka dia akan tetap terlihat cantik. Sebut saja Oprah. Menurutku, Oprah adalah wanita cantik. Dia terlihat smart dan menarik. Bagaimana menurutmu?

Yang kasihan, bagi yang mereka yang tak bersyukur. Mungkin ia sibuk mengeluhkan kekurangannya, sibuk bertanya “aku cantik ga sih?” atau malah sering berkata “aku kan jelek…”, ya sesuai hukum tarik-menarik, maka yang tampak pada dirinya adalah sesuatu yang tak menarik karna dia selalu berpikir bahwa dia tak cukup menarik.

Ada kalimat di atas yang aku garis bawahi, yaitu pernyataan: merawat apa yang dimilikinya. Aku menganggap hal ini merupakan poin yang sangat penting. Banyak wanita yang selalu menjunjung tinggi inner beauty, tetapi malah terkadang mengabaikan apa yang telah dimilikinya (outer beauty?). Ada pernyaan menarik dari sebuah majalah yang pernah kubaca. Kurang lebih isinya begini:” Seorang suami memang harus mencintai istrinya apa adanya, tapi seorang istri wajib untuk berusaha selalu tampik menarik dan cantik di depan suami”. Ya, karna seperti pernyataan teman-temanku sebelumnya, “ga bisa dipungkiri sih Mel, fisik itu juga penting.”

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka utamakanlah karena agamanya, niscaya engkau bahagia.” (H.R. Muslim)

Wallahu a’lam bishshawab.





Pasrah

13 09 2008

Aku bukan menyerah,

tapi perjuanganku sudah sampai ke titik pasrah.