Disini, di airport Soekarno Hatta… sebelum memasuki terminal keberangkatan, berderet toko di kanan kiri jalan. Ada beberapa toko buku dan majalah, warung makan, toko souvernir, bahkan diramaikan dengan kehadiran kounter parfum import dan stan sumbangan di sepanjang jalan. Seperti biasa, penuh dengan kesibukan dan aktivitas orang-orang. Ada yang tergesa-gesa. Mungkin sudah hampir ketinggalan pesawat. Ada juga yang masih duduk bersantai karna pesawatnya delay, atau menunggu penerbangan berikutnya yang masih beberapa jam lagi. Beberapa yang tidak menunaikan ibadah puasa, terlihat sedang makan di warung makan, atau sedang asyik merokok di smoking area.
Kalau dipikir-pikir, airport ini mengandung filosofi kehidupan juga… berbagai macam orang, berbagai macam kesibukan, berbagai kepentingan, berbagai suku, berbagai sifat, berbagai tujuan, bertemu, berkumpul disini. Ada yang sendirian, ada juga yang bersama dengan orang-orang yang disayanginya. Yang sendirian, biasanya akan mulai berusaha mencari teman. Mengajak bicara orang yang baru dikenal. Yang beramai-ramai, sibuk bersama rombongannya. Ada juga yang sibuk menyendiri mungkin sekaligus menyegarkan pikiran. Atau mungkin juga sedang berefleksi diri. Ada juga yang sedang bermunajat dengan Tuhannya. Lengkap. Dan yang membuatnya lebih unik, semua terjadi dengan sangat cepat. Ada pertemuan, ada perpisahan. Ada awal, ada akhir.
Ada satu hal yang menarik perhatianku. Ketika aku masuk ke terminal keberangkatan, aku melihat seorang anak kecil. Usianya mungkin sekitar enam-tujuh tahunan. Tapi dia bertingkah seperti anak dua tahun. Retardasi mental sepertinya. Dia sibuk melihat-lihat sekelilingnya dengan mata yang sama polosnya dengan mata seorang balita, dan sesekali dia tertawa. Di tangan anak itu ada sebuah handphone yang sedang memutar lagu-lagu. Ayahnya, dengan setia mengikuti kemana saja langkahnya pergi. Sesekali ayahnya memanggil ,”Adek kesini, Adek…”. Atau “Ayo Adek kesini ikut bapak, lihat pesawat yuk, lihat pesawat…”
“Mau kemana Dek?” tanyaku ketika si adek berjalan mendekat ke dekat tempat dudukku.
“Mau ke Jambi Mbak,” jawab ayahnya.
Aku tersenyum kepada beliau.
Sorot matanya, sorot mata seorang ayah yang ia berikan kepada anaknya. Dengan segala kekurangan anaknya, tak sedikit pun ada kasih sayang yang kurang dari sorot mata itu.
“Cuma berdua Pak?”
“Ga Mbak, sama ibunya,” katanya sambil menunjuk ke arah seorang ibu memakai kerudung putih yang sedang duduk di kursi.
Lalu sang ayah dan si adek pun sibuk berjalan-jalan kembali. Ketika aku mulai mengetik tulisan ini, mereka sekeluarga pindah duduk di kursi di hadapanku. Si adek masih sibuk dengan ‘kesibukannya’. Mengetuk-ngetuk kursi, mendengarkan lagu di hape, berkeliling kesana kemari. Sesekali dia merengek tak jelas, lalu si ibu berkata “Mau kemana Sayang?” atau sang ayah akan kembali mengikuti maunya si anak dan tak lama kemudian terlihat memangku anaknya di samping ibunya. Hmmm… Ayah dan ibu itu, terlihat begitu menyayangi anak mereka. Dan aku melihat, di balik kesibukan airport ini, ada keluarga kecil yang bahagia dengan segala kekurangannya.
*Jakarta, 24 September 2008. “Sekedar catatan kecil dari hasil menunggu di airport”



Recent Comments