Itu hanya Stereotype!

24 08 2008

Banyak sekali stereotype gender yang sering kita dengar. Ada yang bilang, kalau wanita menggunakan 1 akal dan 9 perasaan sedangkan pria sebaliknya. Ada yang mengatakan bahwa pria adalah makhluk yang tidak memperhatikan detail sedangkan wanita adalah makhluk yang sangat peka. Wanita berbicara lebih banyak daripada pria. Pria hanya bisa membaca atau mendengarkan, tidak kedua-duanya. Dan seterusnya.

Dengan adanya berbagai sterotype tentang pria dan wanita, maka sering kali muncul pertanyaan, “Siapakah yang lebih hebat, pria atau wanita?”. Kemudian muncul berbagai perdebatan antara kaum feminis dan maskulis (?) yang membela gender masing-masing.

Yang ingin aku bahas disini bukanlah perbandingan antara siapa yang lebih hebat, pria atau wanita? Ayah atau ibu? Suami atau istri? Dan seterusnya. Karna aku merasa, hal seperti itu sudah sangat sering dibahas dan malah menghasilkan perdebatan yang sangat panjang.

Aku pribadi merasa, wanita dan pria itu sudah ada kodratnya masing-masing. Allah Maha Adil. Yang membedakan antara pria dan wanita, hanyalah iman dan taqwa. Bukankah itu yang membedakan kita dihadapan-Nya selama ini?

Aku ingat hasil obrolan ringan dengan kakakku beberapa bulan yang lalu. Dia berkata bahwa proses penciptaan manusia pun sudah menjawab bahwa Allah sangat adil bahkan dari sudut pandang gender sekalipun. Nabi Adam as diciptakan tanpa ayah dan ibu. Hawa diciptakan tanpa wanita, tetapi dari tulang rusuk Nabi Adam as . Dan Nabi Isa as diciptakan tanpa ayah, hanya dari rahim Maryam. Dan sisanya, diciptakan melalui ayah dan ibu. Sangat adil bukan? Subahanallah…

Lalu bagaimana dengan stereotype yang sudah sangat berkembang selama ini? Bahwa pria begini dan wanita begitu. Aku pernah membaca bukunya Allan and Barbara Pease, Why Men Can Only Do One Thing at One Time And Women Can’t Stop Talking. Disana banyak sekali digambarkan perbedaan antara pria dan wanita. Pada saat membacanya, aku merasa semua isi buku itu banyak benarnya. Sehingga mungkin membentuk mindset sendiri dalam otakku. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku merasa tak semua stereotype yang ada itu benar. Ada individual differences. Pada akhirnya, tergantung juga pada individu masing-masing.

Sebagai contoh dari pernyataan judul saja, Why Men Can Only Do One Thing at One Time. Aku (baca:wanita) juga memiliki kebiasaan ini. Aku tak bisa mengetik sms jika ada orang yang mengajakku mengobrol. Aku tak bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus. Sulit sekali rasanya, binggung. Ya meskipun aku (baca lagi:wanita) Can’t Stop Talking too. :p

Aku baru saja membaca buku, Gadis Kecil Kesayangan Ayah – Chicken Soup for the Father’s Soul. Yang aku pelajari ketika membaca buku itu, bahwa sebenarnya, seorang ayah atau seorang pria, ternyata dapat memiliki perasaan yang sama pekanya dengan seorang wanita. Seorang ayah juga menyayangi anaknya dengan sangat seperti seorang ibu. Jika ibu memiliki naluri keibuan, ternyata ayah juga mempunyai naluri seorang ayah.

Aku percaya bahwa sebenarnya pria juga berhati lembut. Perasaan pria juga sebenarnya halus. Cuma cara mereka saja yang terkadang terlalu kasar. Itu karenanya, aku juga termasuk tipe wanita yang percaya bahwa tak semua pria itu brengsek. Karna itu hanya stereoype! :)





Perjuangan

23 08 2008

Aku tak begitu mengenalnya,
Juga tak sering bertukar sapa.
Tapi karya dan pemikirannya,
Membuatku menganggapnya seperti saudara.

Hatinya begitu tulus,
Tak pernah sedikit pun berpikir ketus.

Rasa sakit mendera berkali-kali,
Tak juga membuatnya peduli.

Yang dia tau hanyalah berlari,
Mengejar mimpi.

Kita adalah pejuang, Saudaraku!

Yakinlah,
Kelak Dia akan menjawab doa-doa kita,
Dengan cara-Nya.

*Sebuah tulisan sederhana, yang terinsipirasi dari seorang sahabat.
Untuk mereka yang optimis dan berjuang mewujudkan angan,
Untuk mereka yang tak mudah menyerah meskipun terasa sangat sulit,
Untuk mereka yang percaya bahwa ada hikmah dibalik segala sesuatu,
Dan untuk mereka yang percaya bahwa Dia tak akan pernah menganiaya hamba-Nya.