Sore ini aku duduk di depan pintu. Menunggu anak-anak yang biasanya main ke pondokan KKN kami. Ah, anak-anak itu! Kalau ditunggu-tunggu seperti ini mereka tak kunjung datang. Kalau kita lagi sibuk, biasanya pada teriak memanggil mengajak bermain. Mungkin sekarang mereka lagi asyik bermain sendiri. Tak apalah, mereka malah memberiku waktu untuk menikmati kesendirianku.
Aku ingat sekali postinganku yang ada kata-kata ”tak ada tempat untuk penulis yang malas!” Hmm.. Sejak menulis itu, aku sudah ’berjanji’ dengan diriku agar lebih rajin menulis. Ya, aku memang menulis. Tapi tak kuposting. Hanya kutuliskan dalam buku bersampul biru yang kuniatkan untuk kugunakan sebagai diary KKN-ku kali ini.
Bukannya apa, kemarin, aku tak membawa serta laptopku kesini. Setelah kubawa, malas sekali untuk memulai mengetik. Panas. Itulah udara yang terasa setiap siang di pondokan kami, sehingga aku malas untuk mengetik di siang hari. Kalau malam hari, itu waktu untuk beristirahat.
Kemudian kuputuskan untuk menulis dengan pulpen dan buku saja. Memang lebih lambat dan terasa lebih pegal, tapi keasyikannya sama aja. Malah, aku tak harus merasakan uap laptop dan malah merasakan dinginnya angin sepoi-sepoi di pinggir pintu ini. Satu kaki kugunakan untuk mengganjal daun pintu yang selalu ingin menutup karna ditiup angin. Dan aku mulai tenggelam dalam pikiran, khayalan, tulisan tanpa peduli dengan mitos ”Anak gadis tak boleh duduk di depan pintu!”
Delapan belas hari sudah aku disini. Tak genap delapan belas hari sih, karna aku juga sempat pulang beberapa hari kemarin untuk training dan sakit. Hmmm… lebih tepatnya lebih dua minggu sudah aku disini. Banyak hal yang kupelajari. Sebenarnya bukan hal yang baru bagiku. Aku tumbuh besar di suatu kecamatan (sekarang kotamadya) bernama Pagaralam, sebuah daerah yang sarat dengan pemandangan alam (sesuai dengan namanya, Pagaralam, sebuah tempat yang dipagari oleh alam) di provinsi Sumatera Selatan.
Tapi sekarang, aku kembali merasakan kebahagiaan yang sama seperti ketika aku kecil. Sawah. Air yang bersih mengalir dimana-mana. Udara yang segar. Membuatku kembali merasakan perasaan bahagia itu. Bebas. Tanpa beban. Mungkin kenangan-kenangan indah semasa aku keil itu tersimpan di Long Term Memory-ku, sehingga pada saat aku disini, dengan suasana yang mirip, rasa itu di panggil lagi oleh otakku. Rasa yang membuatku bahagia disini. Yang membuatku ingat akan firman-Nya, ”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman : 13).
Rumah kita, 18 Juli 2008
… diketik dari buku harianku …


Ya…
Kenangan masa kecil adalah salah satu kenangan terindah dari hidup seseorang…
Sayangnya aku ga punya banyak kenangan, karena orang tua yang selalu berpindah tempat kerja…
Huff..
Thanks for sharing…
rodra
Masa kecil merupakan kenangan terindah meskipun tidak semua bisa merasakannya.
Thanks …..
salam kenal
Fhorshet
Ro: kadang2 sebenarnya aku merasa masa kecilku ga bgitu bahagia lho… tapi klo dikenang sekarang, indah juga, hehehehe
Fhorshet: salam kenal juga ya, thx udah mampir…