Pikiran sendiri

22 07 2008

Duduk aku disini.
Sibuk dengan pikiran yang menari.

Ribut sekali.
Tapi aku tak peduli.
Juga sedang tak ingin mereka peduli.

Aku hanya ingin disini, sendiri.

Teriakan anak-anak itu terdengar dari kejauhan.
Tertawa tanpa ada yang ditahan.
Seakan dunia memang diciptakan hanya untuk mereka.
Jadi mengapa harus sibuk menerka?

Hanya saja…

Ketika dewasa mereka akan tergetar,
Bahwa dunia tak selamanya berpihak.
Ada bahagia, kejam, atau datar.
Karna ada batas antara kewajiban dan hak.





Catatan dari Rumah Kami yang Sederhana

22 07 2008
pagaralam

Gunung Dempo - Pagaralam

Sore ini aku duduk di depan pintu. Menunggu anak-anak yang biasanya main ke pondokan KKN kami. Ah, anak-anak itu! Kalau ditunggu-tunggu seperti ini mereka tak kunjung datang. Kalau kita lagi sibuk, biasanya pada teriak memanggil mengajak bermain. Mungkin sekarang mereka lagi asyik bermain sendiri. Tak apalah, mereka malah memberiku waktu untuk menikmati kesendirianku.

Aku ingat sekali postinganku yang ada kata-kata ”tak ada tempat untuk penulis yang malas!” Hmm.. Sejak menulis itu, aku sudah ’berjanji’ dengan diriku agar lebih rajin menulis. Ya, aku memang menulis. Tapi tak kuposting. Hanya kutuliskan dalam buku bersampul biru yang kuniatkan untuk kugunakan sebagai diary KKN-ku kali ini.

Bukannya apa, kemarin, aku tak membawa serta laptopku kesini. Setelah kubawa, malas sekali untuk memulai mengetik. Panas. Itulah udara yang terasa setiap siang di pondokan kami, sehingga aku malas untuk mengetik di siang hari. Kalau malam hari, itu waktu untuk beristirahat.

Kemudian kuputuskan untuk menulis dengan pulpen dan buku saja. Memang lebih lambat dan terasa lebih pegal, tapi keasyikannya sama aja. Malah, aku tak harus merasakan uap laptop dan malah merasakan dinginnya angin sepoi-sepoi di pinggir pintu ini. Satu kaki kugunakan untuk mengganjal daun pintu yang selalu ingin menutup karna ditiup angin. Dan aku mulai tenggelam dalam pikiran, khayalan, tulisan tanpa peduli dengan mitos ”Anak gadis tak boleh duduk di depan pintu!”

Delapan belas hari sudah aku disini. Tak genap delapan belas hari sih, karna aku juga sempat pulang beberapa hari kemarin untuk training dan sakit. Hmmm… lebih tepatnya lebih dua minggu sudah aku disini. Banyak hal yang kupelajari. Sebenarnya bukan hal yang baru bagiku. Aku tumbuh besar di suatu kecamatan (sekarang kotamadya) bernama Pagaralam, sebuah daerah yang sarat dengan pemandangan alam (sesuai dengan namanya, Pagaralam, sebuah tempat yang dipagari oleh alam) di provinsi Sumatera Selatan.

Tapi sekarang, aku kembali merasakan kebahagiaan yang sama seperti ketika aku kecil. Sawah. Air yang bersih mengalir dimana-mana. Udara yang segar. Membuatku kembali merasakan perasaan bahagia itu. Bebas. Tanpa beban. Mungkin kenangan-kenangan indah semasa aku keil itu tersimpan di Long Term Memory-ku, sehingga pada saat aku disini, dengan suasana yang mirip, rasa itu di panggil lagi oleh otakku. Rasa yang membuatku bahagia disini. Yang membuatku ingat akan firman-Nya, ”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman : 13).

Rumah kita, 18 Juli 2008

… diketik dari buku harianku …





Rahasia

20 07 2008

Maafkan aku bila, aku ada rahasia… bukan denganmu…

Maafkan aku bila, aku ada rahasia… Oh mungkin dengannya…

.Ten2five.

Rahasia. Ok, yang aku maksud rahasia disini bukanlah the secret. Karna sejak buku itu booming, maka hal itu adalah rahasia umum. Dan rahasia bukanlah rahasia bila sudah menjadi rahasia umum. Rahasia disini adalah rahasia yang benar-benar rahasia. (apa seeh…?)

Setiap orang pasti punya yang namanya rahasia. Rahasia adalah sesuatu atau hal yang kita tidak ingin orang lain tahu. Menurut KBBI, rahasia berarti sesuatu yang disembunyikan.

Aku jadi ingat rahasiaku sewaktu kecil. Aku pernah naksir seorang cowok tapi malu buat ngomong sama orang lain dan menyimpan perasaan itu, maka hal itu menjadi rahasia pribadi. Dulu, di salah satu majalah kesayanganku waktu SMA, ada satu rubrik membuka rahasia jahil seseorang yang dulu pernah dilakukan. Misalnya rahasia sewaktu seseorang membunyikan bel mata pelajaran berakhir pada saat di sekolah padahal belum waktunya pulang dan menjadi ’buron’ pelaku kejahatan tersebut tapi tak pernah mengaku dan sebagainya.

Selama ini, yang namanya rahasia, sering banget diidentikan dengan hal-hal negatif. Kejahilan, aib, perselingkuhan, pencurian,,,, dan lainnya. Karna ya biasanya yang namanya sesuatu yang tak mau diketahui oleh orang lain, itu biasanya hal yang negatif. Jadi inget perkataan salah seorang paranormal terkenal, ”Kalau seorang artis ke dukun mah, ga bakal disebarluaskan. Tapi kalau pergi ke pesantren, umroh, nyumbang baru disebarluaskan.”

Padahal, bukankah sesuatu yang bersifat kebaikan itu juga harus dirahasiakan? Supaya tak menjadi sombong atau riya’. Baiklah, waktunya untuk berprasangka baik, mungkin si empu kebaikan ingin supaya perbuatannya dicontoh dan menjadi panutan. Memang lebih baik kalau artis menjadi panutan karna kebaikannya setelah sekian lama masyarakat kita disuapin dengan hal-hal yang negatif.

Kembali lagi ke rahasia. Ada satu hal yang juga kuingat ketika mendengar kata rahasia. Dulu sewaktu kecil, aku dan teman-teman pernah bermain telepon hantu. Bukan telepon hantu betulan sih sebenarnya. Tapi ada nomor telpon yang ketika dihubungi malah menceritakan suatu cerita anak seperti cerita radio. Nah, di cerita itu diceritakan anak-anak kecil yang ditanya oleh gurunya. Dimana tempat persembunyian paling baik yang tak ada satu pun yang tahu. Ada yang menjawab di tempat gelap, ada juga yang menjawab di tempat yang jauh sekali tak berpenghuni. Tapi yang menarik, ada anak yang menjawab bahwa tak ada tempat yang tak ada yang tahu. Karna dimana pun kita berada, Allah pasti akan mengetahui keberadaan kita.

Yang dapat aku simpulkan dari cerita itu adalah, dengan-Nya, kita tak mempunyai rahasia. Karna Dialah Yaa Bashiir, Yaa Samii’, Yang Maha Melihat dan Mendengar.