Birthday

26 06 2008

NEW Birthdays

Itulah salah satu tulisan yang muncul waktu aku log in ke account friendster-ku. Wah, udah lama banget aku ga nge-klik kata-kata itu (mungkin karna aku merasa tulisan NEW comments lebih menarik buat di-klik, hehehe). Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sering banget melupakan hari ulang tahun sahabatku. Padahal dulu, aku termasuk salah satu orang yang menganggap ulang tahun itu adalah salah satu hal yang penting.

Aku jadi ingat saat aku ultah ke-21 bulan Mei kemarin. Aku, yang dulunya selalu excited dengan datangnya hari ultah tapi jujur aja, kemarin itu agak merasa datar. Aku mulai merasa bahwa ulang tahun itu bukanlah sesuatu yang penting untuk dirayakan. Karna dengan bertambahnya umur, maka sama dengan bertambahnya tanggung jawab dan berkurangnya sisa usia. Hufff…..

Tapi bukan berarti aku menjadi orang yang anti dengan merayakan ulang tahun. Aku senang sekali kemarin aku mendapat kejutan dari teman-temanku. Dan dalam pertama kali dalam hidupku, aku mendapat tiga buah kue ulang tahun. “Makasih ya teman-teman…”

Banyak hal menyenangkan yang berhubungan dengan ulang tahun. Saat kita bersyukur karna masih diberi kesempatan beribadah oleh-Nya. Saat keluarga kita menelpon dan mengirimkan doa untuk kita. Saat masih banyak orang ingat akan keberadaan kita. Saat kita diperlakukan istimewa oleh orang yang menyayangi kita. Saat berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi. Saat teman-teman yang mulai (sok) sibuk menyempatkan waktunya untuk bertemu kita. Dan saat-saat yang lain.

Saat-saat itulah yang membuatku selalu merindukan kedatangan hari ulang tahunku. Meski terkadang aku bertanya, “Merayaan ulang tahun, perlukah?”





sampai kapan?

22 06 2008

Aku mencoba untuk tak peduli,
tapi hati ini tidak bisa dibohongi.
Karna saat kulihat kembali,
masih terasa sakit di hati.

Namun aku terus berlari.
Menjauh. Menepi.
Lalu berharap pada sesuatu yang tak pasti.

Tolong katakan, Sampai kapan harus begini?





Ayo Nulis!

22 06 2008

“Tidak ada tempat untuk penulis malas!”

Itulah judul tulisan di blog penulis favoritku, Asma Nadia. Rada malu sebenarnya waktu membacanya. Aku, yang kemampuan menulisnya masih sangat minim ini, bercita-cita menjadi penulis. Udah ga pintar-pintar banget nulis, eh ditambah penyakit malas lagi! Huffff…..

Sering kali aku ini berkilah, “ah sibuk, ntar aja…” Padahal apa salahnya sih meluangkan waktu sekitar satu jam sehari buat nulis daripada sekedar tidur-tiduran di kasur sambil melamun? Contoh kecilnya dari blog ini, yang makin lama makin ga produktif. Padahal, pas awal bikin blog, wuih… semangat banget! Liat aja tu arsip bulan Maret dan April. Yang kemudian menurun di bulan-bulan berikut.

Malas. Sebuah sifat yang sering banget hinggap di diriku. Mulai dari malas beres-beres, malas belajar, malas buat tugas. Ouuggghhh…. Susah banget membuang sifat malas itu ya? Trus yang kedua yang ga kalah parah dan sobat baiknya penyakit malas ini, menunda. Ya menunda buat nulis, menunda buat beres-beres kamar, menunda buat belajar dan buat bikin tugas… Intinya ya karna malas itu juga makanya ditunda. Aku berkilah karna kemalasanku. Padahal, kata orang bijak yang aku lupa siapa namanya, 99% kegagalan itu datang dari diri orang yang suka berkilah. Astagfirullah…

Aku tak ingin menjadi manusia penuh ambisi. Yang hanya penuh cita-cita dan angan-angan. Aku hanya ingin menjadi orang yang memberikan kontribusi terhadap dunia. Seperti quote di blog sahabatku, “I Want a simple but productive and contributing life”. Aku ingin berkontribusi dengan apa yang aku bisa. Apa yang aku punya. Jika aku punya suara yang bagus, tentu aku akan menyanyi untuk duniaku. Tapi sayang sekali, suaraku hanya bagus buat di kamar mandi dan tempat karoke keluarga (di jam happy hour lagi…, hehehe).

Aku kemudian berpikir, apa yang aku punya dan aku bisa. Menulis. Meski ga bagus-bagus banget, mudah-mudahan aku terkategorikan sebagai orang yang bisa menulis. Aku akan terus belajar dan belajar untuk memperbaiki tulisanku. Baik secara teknik, bahasa, maupun ‘isi’ tulisan itu. Aku ingin menulis sepanjang hidupku. Walau cuma di diary, journal pribadi atau di blog. Jika kelak aku sudah punya suami dan anak, aku ingin menulis tentang mereka, tentang hari-hari mereka, seperti ibu Linda. Dan jika aku punya kesempatan menjadi penulis yang bukunya diterbitkan, aku ingin sekali seperti mbak Asma Nadia. Yang meski bukunya sudah best seller, tetap setia berinteraksi dengan pembacanya.

Aku ingin menjadi penulis. Yang memberikan sesuatu untuk dunia.

Tolong doanya ya teman-teman.

Semangat!

:)





Triangular theory of love

16 06 2008

Gambar di atas, adalah gambar segitiga cinta Sternberg.  Kuposting buat memenuhi janji yang hampir terlupakan kepada seorang sahabat ketika ia berkata, “Mel, kapan-kapan posting tentang psikologi dong, berbagi ilmu…” .  Terus aku kepikir buat posting tentang suatu sudut pandang Psikologi Sosial ini. Ya, lagi-lagi tentang cinta. Semoga tidak bosan. :p

Segitiga cinta yang menjelaskan tentang tiga komponen yang mendasari cinta.

keintiman

nafsu

komitmen

Dibawah ini beberapa tipe dari cinta berdasar teori ini:

  • Nonlove : tidak ada satu pun komponen yang terlibat. “tak kenal maka tak sayang”
  • Liking/friendship : hanya ada keintiman, contohnya persahabatan.
  • Infatuated love : hanya ada nafsu, contoh cinta pada pandangan pertama.
  • Empty love : hanya ada komitmen.  contohnya? hmm… Lupa. Kawin paksa mungkin. hehehe maksa!
  • Romantic love : ada nafsu dan keintiman, contohnya percintaan musim panas.
  • Companionate love : ada keintiman dan komitmen, contohnya perkawinan yang sudah lama dimana nafsu sudah hilang.
  • Fatuous love : ada nafsu dan komitmen.  contohnya, perkawinan mendadak tanpa kedekatan terlebih dahulu.
  • Consummate love: tipe paling kompleks dimana terdapat ketiga komponen.  Nafsu, keintiman dan komitmen.  Merupakan bentuk yang paling ideal diantara yang lain.  Mau?

:)

Buat penjabaran lebih, bisa sahabat klik disini. Makasih….





Totalitas!

16 06 2008

believe

Ada kejadian menarik hari ini. Seorang sahabatku mendapat pekerjaan tak terduga. Disaat sudah beberapa bulan ini menjadi pengacara (pengangguran banyak acara), eh dia mendapat tawaran bekerja di salah satu bank negara. “Selamat ya Sayang….” . Beberapa bulan terakhir ini ia memang aktif di salah satu organisasi. Dan alhamdulillah, seseorang melihat kinerja dan totalitasnya di organisasi itu kemudian menawarinya pekerjaan tersebut.

Padahal beberapa kali belakangan ini ia sedikit mengeluh tentang “capek”nya di organisasi itu. Karna mungkin ia merasa kurangnya apresiasi yang diberikan orang terhadapnya, dan karna terlalu aktif di organisasi itu juga, ia sempat melewatkan beberapa lowongan pekerjaan.

“makasih ya Mel… ’setiap pengorbanan itu ga ada yang sia-sia-Emel’ “

Dia mengutip kata-kata yang (aku lupa juga ngutipnya dari mana) beberapa waktu lalu aku sms buat dia. Trus kujawab,

“Yup. Allah melihat proses. Masalah hasil, biar Dia yang jawab. Dan Dia tak akan menganiaya hamba-Nya”

Intinya adalah, totalitas. Kita selalu berusaha, berikhtiar. Melakukan yang terbaik. Suatu saat, semuanya akan terbalaskan. Bukankah kita memetik apa yang kita tanam kemarin?

Aku ingat bagaimana Hanung menuliskan perjuangan dia dan crew dalam membuat film Ayat-Ayat Cinta. Cerita lengkapnya, sahabat bisa klik disini. Ada satu kata yang membekas banget di ingatanku waktu baca story-nya dia, totalitas! Disaat banyak banget hambatan, hampir menuju ke keputusasaan, Hanung dan crew-nya tetap total mengerjakan film itu. Mereka tak peduli apakah film itu akan berhasil atau tidak, booming atau tidak, yang mereka tau hanyalah bekerja, bekerja dan bekerja. Dan lihat sekarang, terlepas dari kontroversinya, AAC memetik buah yang sangat manis. Lima juta lebih penonton, belum termasuk penonton bajakan (ngaku hayooo….). Belum lagi bonus lainnya seperti Fedi Nuril menjadi idola, Carissa yang datang dari antah brantah tiba-tiba menjadi pujaan, Hanung ma Zaskia yang katanya pacaran (Lho kok malah ngomongin gosip?) atau Baim Wong yang juga kecipratan rejeki gara-gara peran Fahri-wanna be di Sinetron Munajah Cinta. :p

.Satu Ihsan.

“Berbuatlah seakan-akan engkau melihat Allah SWT, jika engkau tak bisa melihat-Nya, engkau yakin bahwa Dia melihatmu.”

Ya, itulah buah dari sebuah kesungguhan. Perjuangan. Totalitas! Yang kita tahu hanyalah berusaha. Melakukan yang terbaik. Masalah hasil, kita serahkan pada-Nya. Percaya pada-Nya. Dia tau yang terbaik. Dan Dia takkan menganiaya hamba-Nya.

‘Pain today. Heaven tomorrow- dia’

:)

SEMANGAD!!!





Lagi. Tentang Cinta.

14 06 2008

Cinta.

hmmm… bolehkah aku menulis tentang cinta lagi??

:)

Tulisan kali ini kembali tentang cinta. Tapi cinta antara diri kita dan Dia. Ya Rabb. Terinspirasi ketika seorang sahabat berbisik ditelingaku beberapa jam yang lalu, “Allah terlalu sayang dengan kita, Mel…”. Rasanya, nyesss banget! Malu. Karna diri ini terlalu sering melupakan-Nya. Terlalu terlena dengan harapan akan cinta selain cinta-Nya. Astagfirullah…

Padahal kalau dipikir, siapa yang paling menyayangi kita? Orang tua ? Saudara? Teman? Pacar? Bukan kan? Allah. Allah lah yang paling sayang sama kita.

Nafas ini diberi oleh-Nya dengan percuma kepada kita. Di saat beberapa orang terbaring sakit dan berusaha membeli kehidupan dengan selang oksigen di hidungnya. Jantung ini masih diizinkan memompa darah yang mengalir di tubuh kita. Di saat pada detik ini, beberapa jantung telah berhenti berdetak.

………………………………

.terdiam.

Lalu bagaimana? Apakah kita tidak boleh mencintai yang lain? Tentu tidak. Bukankah Allah sendiri yang mengajarkan agar selain cinta kepada-Nya, kita juga mencintai makhluk-Nya. Habluminallah & Habluminanaas.

Ada satu pernyataan menarik dari seseorang mengenai puisi yang aku tulis kemarin. Bahwa, ada seorang yang ingin hanya mencintai Allah dalam hidupnya. Tapi tidak bisa, karna dia ternyata masih mencintai ibunya.

:)

Ya sekali lagi.

Cinta.

Satu kata yang bermakna sangat dalam. Yang tak akan pernah kehabisan bahan untuk dibahas. Satu kata yang ketika disebut akan mengingatkan kita pada banyak hal, banyak kejadian, banyak cerita. Dari zaman ke zaman selalu begitu. Dunia boleh bertambah maju, tapi jauh di dalam hati sana, semua akan tetap sama.

Ah, alangkah indahnya cinta itu. Apalagi cinta yang hakiki. Cinta kepada-Nya dan cinta yang atas dasar ridho-Nya.

(Tolong selalu bimbing hati ini Ya Rabb, amin…)





bolehkah?

12 06 2008

Ini hatiku.
Kuberikan kepada Tuhanku.
Sebagai gantinya,
Dia memberiku cinta
untuk kubagi-bagikan.

Ada untuk orang tuaku,
untuk saudara-saudaraku,
untuk malaikat-malaikat kecilku,
sahabat-sahabatku, teman-temanku…

Ada juga untuk orang-orang yang tak kukenal,
untuk alamku dan hewan-hewan di sekelilingku.
Bahkan, ada untuk orang-orang yang membenciku.

Tapi cinta itu tak pernah habis.

Lalu aku bertanya,
”Tuhan, bolehkah kuberikan juga cinta ini untuknya?”





Cinta, dari sudut pandang yang lain.

5 06 2008

blue love

Sahabat pasti pernah denger cerita putri-putri? Ada Cinderella, putri salju, putri duyung atau mungkin putri Fiona. Ya apapun ceritanya, intinya satu, seorang pangeran tampan yang akan datang melamar putri. Ok, pengecualian buat Putri Fiona, karna yang datang sama sekali bukan berwajah tampan (secara ya…..). Tapi benang merahnya adalah semua kisah cinta mereka happy ending. Mereka berbahagia selamanya. Oh so sweet… :)

Sadar atau tidak, pengaruh cerita-cerita itu udah melekat di dalam diri kita (baca: perempuan). Siapapun kita. Entah tomboi, girly, sporty, feminim, semuanya secara tak sadar, mengharapkan suatu saat akan menemukan ‘pangerannya’. Dan hebatnya, femomena ini lintas usia. Tak peduli masih anak-anak, remaja, maupun udah dewasa. Semua perempuan yang belum menemukan tambatan hati (atau yang belum menikah mungkin), pasti punya harapan begitu.

Apa benar hal ini Cuma karna pengaruh cerita putri-putrian? Atau jangan-jangan, hal ini merupakan fitrah kita? Hmmm….

Sebenarnya, sebelum nulis ini, aku habis baca buku. Tebak bukunya siapa? Yup, benar. Lagi-lagi punyanya mbak Asma. Judulnya, La Tahzan for Broken Hearted Muslimah. Banyak sekali kisah patah hati yang ditulis. Pejuang-pejuang cinta yang berakhir dengan kisah sedih. Bahkan sedikit tragis dan kasihan. Membuatku berpikir, merenung, merasakan bahkan mengenang akan sesuatu hal.

Cinta.

Selain memberikan kebahagiaan, juga membuat air mata kita mengalir. Untuk sedih yang terkadang kita sendiri tak tau kenapa dan untuk apa. Membuat kita berhenti berharap dari semua harapan-harapan yang pernah ada. Dan kemudian pada akhirnya membuat kita pasrah untuk semuanya karna sudah terlalu lelah. Sudah tak bisa mengarang kata-kata apa lagi dalam doa. Sehingga hanya bisa berkata berkata, Tuhan, tolong bantu aku… berikanlah perunjuk-Mu. Kau tau apa yang aku rasakan, dan aku percaya pada jalan yang Kau pilihkan. Amin. (Puih,,,, helaan nafas panjang…)

Ya, back to reality. Cinta memang membutakan semuanya. Sampai kita hanya ingat cerita akan Cinderella dkk. Kita lupa akan cerita-cerita cinta yang lain. Layla-Majnun, Devdas, dan kisah cinta berakhir tragis lainnya.

Aku menulis ini bukan untuk mematahkan semangat. Karna aku sendiri adalah manusia yang percaya akan cinta. Mau sebut aku naif juga silakan. Aku percaya, semua yang datang itu adalah cobaan. Yang membuat kita semakin kuat. Yang merupakan ujian untuk mengetahui sejauh mana kita bertahan. Apa kita akan berputus asa atau terus mencoba? Itu hak kita.

Aku jadi ingat kata-kata dari Gde Prama dalam tayangan Kick Andy versi Andrea Hirata,

“Cinta itu sebuah perjuangan. Cinta tidak pernah datang dengan cara murah, datang dari langit. Semuanya harus kita perjuangkan. Dan sering kali cinta itu mekar setelah kita melewati berbagai macam derita. Derita bukan musuhnya cinta. Derita itu sedang membuat cinta menjadi lebih dewasa.”

Ya, sekali lagi. Tentang cinta, pendefinisiannya, cara menyingkapinya, semuanya hak kita masing-masing. Bukanlah masalah rasa adalah segala sesuatu yang bersifat personal?

“Allah, maafkan hamba yang sering kali lebih mencintai dunia dan melupakan wajah-wajah cinta yang lain yang abadi dan tak pernah berakhir duka.” –Asma Nadia—

Palembang, 2 Juni 2008