Keyakinan.

23 05 2008

Ku berdiri disini,
terpaku,
menunggu…

Mereka telah memanggilku,
tapi aku belum mau beranjak.

Aku masih disini,
membatu,
menunggu…

“Hei, bangun Gadis!
Sampai kapan mau disini?
Kami pun geram melihatmu seperti ini!”

Maaf, jawabku.
Aku tak tau…

Aku hanya yakin,
bahwa aku harus disini dulu.

Keyakinan ini sudah tertanam,
meski dalam ketidakpastian.

Keyakinan yang mungkin dulu juga dirasakan
oleh Zulaikha terhadap Yusuf.

Keyakinan itulah,
yang entah darimana asalnya,
memberi kekuatan,
untuk membuatku bertahan.

Maaf,
kalau kalian mau duluan, duluan saja.





Bangkitlah Indonesiaku!

22 05 2008

bendera indonesia

Bangkit. Bukan Daniel Subangkit, sahabat saya yang kebetulan lahir pada hari kebangkitan nasional tetapi kata ”bangkit” itu sendiri. Apa definisi dari kata bangkit?

Beberapa hari yang lalu, kita memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional. Banyak event diselenggarakan. Dari yang kecil sampai ke event besar. Ada yang menjadikannya hanya sebagai ajang promosi, tetapi banyak juga yang dibuat untuk kembali mengingatkan dan memberi semangat agar kita, bangsa Indonesia, bangkit.

Jadi apa itu bangkit? Bangkit itu bangun, mencoba kembali berdiri dari keterpurukan. Apabila kita diajak untuk kembali bangkit, maka perlu kita sadari bahwa selama ini kita terpuruk. Bangsa kita sedang berada di titik yang rendah, yang banyak sekali dilanda masalah, dan masih perlu banyak sekali perbaikan sana-sini.

Aku disini bukan untuk membahas masalah-masalah itu, karna aku yakin, tanpa aku perlu menambahkan, sudah banyak sekali yang membahas masalah-masalah bangsa ini. Bahkan aku dulu pernah mendengar seseorang berkata bahwa ”bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka sekali mengejek dirinya sendiri”.

Tapi aku ingin berbagi sedikit pengalaman yang kemarin aku dapatkan sewaktu ikut rombongan ESQ Jogja pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara ”100 Tahun Kebangkitan Nasional, Menuju Indonesia Emas 2020”. Banyak sekali pelajaran berharga yang aku dapatkan disana.

Acara itu sendiri diadakan selama dua hari, tanggal 19-20 Mei. Dan acara puncaknya adalah hari kedua tanggal 20 Mei. Dimulai dengan pagi harinya, kita mengadakan gerak jalan yang dihadiri, subahanallah, sekitar 20ribu orang dari seluruh Indonesia. Dan juga dihadiri oleh beberapa tokoh negara seperi Pak Menpora, Adyaksa Dault. Dan juga banyak sekali acara lainnya yang tak kalah menarik. Selain acara yang diselenggarakan oleh FKA ESQ, ada beberapa acara yang tak kalah besar yang diselenggarakan di Jakarta. Belum lagi di kota-kota lain di Indonesia.

Yang perlu dilihat disini bukan seberapa besar acara itu dan seberapa banyak orang ikut, tapi antusiasme yang diperlihatkan menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang bersemangat untuk memperbaiki negeri ini. Ini adalah salah satu indikator ”kegelisahan nasionalisme” yang dulu juga dirasakan pemuda-pemuda Indonesia sebelum tahun 1908.

Pernah dalam satu ketika, aku melihat orang yang tepuk tangannya semangat sekali sewaktu acara indoor berlangsung. Aku ingin tertawa, karna merasa tak ada yang lucu dan tak ada yang perlu untuk diberi tepuk tangan karena kebetulan saat itu tak ada orang lain yang bertepuk. Tapi saat itu juga aku langsung tersadar, ’Wah, orang ini semangat sekali’. Aku langsung merasa malu sudah menertawakannya tadi.

Optimisme. Itulah yang ditunjukkan orang itu. Dia tak peduli orang menertawakan dia. Dia mengikuti acara dengan semangat, fokus dan mendengarkan dengan semangat juga. Aku ingat perkataan Pak Ary, yang (kira-kira seperti ini) mengatakan bahwa orang mungkin akan menertawakan kita, yang bermimpi bisa mewujudkan Indonesia Emas. Tidak mungkin bisa! Tapi kita tak peduli. Yang kita tau, kita terus berusaha. Berusaha dan berusaha. Berusaha melakukan yang terbaik. Andai perjuangan kita terhenti, nanti ada teman-teman kita dan generasi penerus kita yang melanjutkannya.

Apakah menurutku Indonesia yang lebih baik akan terwujud? Ya, InsyaAllah. Kita akan terus berusaha. Karna aku yakin, bukan cuma Pak SBY, Pak Ary Ginanjar, pemimpin-pemimpin yang baik dan aktivis-aktivis yang memimpikan hal ini, tapi juga aku dan kamu.

Ayo sahabat, kita berbuat. Mari kita perbaiki mulai dari diri kita. Manusia tak ada yang sempurna tapi jangan pernah berhenti berusaha menyempurnakan dirimu. Kita berbenah dan terus berbenah. Kita junjung nilai-nilai yang merupakan fitrah kita sebagai manusia. Kita berusaha untuk terus menaati sunatullah. Demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik. Amin.





Dua Sisi Dunia

15 05 2008

Dua sisi dunia? Koq judulnya sama? Jujur, aku nulis ini juga terinsipirasi dengan puisi yang aku buat waktu itu. Banyak yang ngasih comment puisi itu bahwa seharusnya kita memang harus memilih dan jangan setengah-setengah. Seorang sahabat mengatakan bahwa kita memang harus memilih, nanti biar waktu yang menjawab apakah pilihan kita benar atau salah.

Sebenarnya, sewaktu nulis puisi itu, aku tidak mengajak orang-orang untuk tidak bisa mengambil sikap. Tentu setiap orang harus tegas dengan keputusan dan pilihan hidup. Meskipun puisinya ”terkesan pengecut”. Ya namanya juga puisi, terkadang kata-katanya tak ada logika :) . Tapi yang ingin aku sampaikan bahwa setiap sisi itu memiliki sisi baik dan buruk.

Aku ingat perkataan seorang teman mengenai lambang Yin & Yang. Bahwa di bagian putih pun masih terdapat titik hitam dan di bagian hitam pun masih terdapat titik putih. Yang berarti bahwa ketika kita mengatakan bahwa bagian A lah yang paling baik, maka tetap akan ada sisi tidak baiknya. Begitu pula bagian B yang dirasa sebagian orang paling baik dan benar tetap aja ada sisi yang tidak baik.

Contohnya bahasan mengenai marah. Ada yang mengatakan bahwa marah itu harus dikeluarkan supaya kita menjadi lega. Ada yang bilang kita harus bisa menahan amarah. Ketika kita mengeluarkan marah tanpa pikir panjang dan hanya menuruti emosi, maka yang akan terjadi adalah kehancuran. Begitu pula ketika kita hanya menahan amarah dan hanya diam saja, maka kita akan merasa tidak enak sendiri.

Disaat itulah kita harus mengambil jalan tengah. Menjadi asertif. Apa itu asertif? Menurut kamus psikologi, asertif adalah bla bla bla…. Yang intinya adalah: ketika kita bisa mengeluarkan uneg-uneg yang kita rasakan tanpa harus menyakiti orang lain. Jadi ketika kita merasa sesuatu yang tidak beres, keluarkan aja dengan cara yang asertif. Speak up!

Dalam buku Asma Nadia yang berjudul ”Kangen” (yang kemaren dikasih sebagai kado ultah dari RAD ART versi Rei) ada kata yang menjawab semua inti dari tulisanku sekarang, keseimbangan. Dalam sebuah cerpen berjudul yang sama, Kangen, ada satu paragraf seperti ini:
” Egois? Bukan. Winda hanya ingin semua berjalan seiring. Harus ada persamaan. Bukankah agama juga mengajarkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan? Bukankah kebudayaan dimana pun kerap mengajarkan keseimbangan? Ada Lingga yang bersisihan dengan Yoni. Ada Yin yang bertaut dengan Yang. Lalu mengapa yang satu harus mengalah kepada yang lain?”

Keseimbangan. Kita memang harus bisa seimbang. Harus bisa adil. Karna adil adalah fitrah kita sebagai manusia. Cerminan Allah Ya Adl, Yang Maha Adil. Bukankah segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik?

Wallahu a’lam bishshawab.





cinta

10 05 2008

cinta.

indah sekali….

ketika kata “cinta” diucap,
terbayang satu jiwa,
yang selalu di hati.
yang selalu menari-nari,
di dalam sepi.

taukah kau Cinta?
aku disini,
setia menanti…





puisi tak bermakna

8 05 2008

Ku benar-benar tak mampu menggambarkan ini,
menggambarkan apa yang ada.

Perasaan ini tak pernah berubah.
Selalu begitu, sedari dulu.
Malah mungkin makin bertambah.

Mereka panggil aku si tolol,
tapi aku tak peduli.
Aku hanya terus berlari.
Karna kurasa belum saatnya untuk berhenti.

Ingin kucurahkan semuanya.
Semua yang kurasakan.
Semua yang menyusup dalam jiwa.

Ingin kugambarkan semua itu.
Seperti pelukis yang menyatu dalam kanvas.
Seperti penulis yang tenggelam dalam tinta.

Tapi selalu saja tak bisa.
Tak ada yang berhasil mendeskripsikannya.

Kau, membuat semua puisi-puisiku menjadi tak bermakna.





sebuah catatan

5 05 2008

Subahanallah…
Pagi ini, Engkau menghidupkan hamba Ya Allah,,,
Engkau Yang Maha Menghidupkan.

Lalu, hamba berjalan bersama sahabat-sahabat hamba,,,
karna Engkau Ya Allah, Yang Maha Mengumpulkan.

Kau beri kami kekuatan untuk berjalan,
Ya Allah Yang Maha Kuat…
Dan kaki kami yang berdiri kokoh,
Berkat Engkau Ya Matiin,
Yang Maha Kokoh.

Dan ketika kami bernafas,
Udara yang masuk ke tubuh terasa sejuk sekali,
Karna Engkau Ya Waduud,,,
Yang Maha Memberi Kesejukan.

Lalu, di jalan, kita melihat gunung yang menjulang tinggi,
wahai Engkau Yang Maha Tinggi…
Dan langit yang begitu luas,
Wahai Dzat Yang Maha Luas.

Ketika hamba mengadahkan kepala ke atas,
Terlihat awan yang begitu lembut…
Ya Lathiif,,,
Yang Maha Lembut.

Dan cahaya matahari yang bersinar melalui awan-awan itu,
Wahai Ya Nuur,
Yang Maha Bercahaya.

Tibalah kami di tempat tujuan yang begitu indah,
Seperti Engkau Ya Allah,
Yang Maha Indah.

Disana terdengar bunyi kicauan burung yang hidup,
Berkat Engkau Yang Maha Hidup.

Lalu, salah seorang sahabat memberi petunjuk tentang apa yang harus kami lakukan,
Subahanallah, dia telah mewakili sifat-Mu Ya Hadii,
Yang Maha Memberi Petunjuk.

Kemudian, hamba melihat sahabat-sahabat yang tertawa bersama,
Saling menyayangi dan mengasihi.
Mereka tanpa sadar telah mewakili sifat-Mu,
Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Dan, tanpa terasa waktu kami untuk menulis telah berakhir,
kembali mengingatkan hamba pada Engkau,
Dzat Yang Maha Akhir dan Maha Mengakhiri.

Subahanallah Ya Allah,
ternyata Engkau ada dimana-mana,
Tanpa kami sadari sebelumnya…

Sebuah oleh-oleh dari kegiatan tadabbur alam, menikmati kekayaan ayat-ayat kauniyah yang dilukiskan-Nya di alam, pada hari Sabtu, 2 Mei 2008 di Kaliurang, Yogyakarta.