Dua Sisi Dunia

28 04 2008

Hitam atau Putih.
Kiri atau Kanan.
Siang atau Malam.

Mana yang harus kupilih?
Hmmm….
Aku tak tahu.

Aku berpikir,
tapi tak mampu juga mencernanya.
Ini tak sepenuhnya benar,
juga tak sepenuhnya salah.

Begitu pula dengan itu.
Ah, terlalu rumit.
Membinggungkan.

Lalu, kuambil jalan tengah saja.
Lebih aman.
Meski terkesan sedikit pengecut.





Maaf

25 04 2008

Maaf.

Hanya satu kata. Terdiri dari empat huruf. Tapi kenapa kita harus mengucapkannya, walau hanya setahun sekali? Berarti maaf bukanlah hanya “sebuah kata yang terdiri dari empat huruf”

Aku ingin bercerita sejenak. Boleh kan? (pasti boleh! hehehe)

Aku punya seorang sahabat. Dia memiliki hati yang sangat lembut. Tutur katanya halus. Dia ramah dengan semua orang. Dan jarang sekali berprasangka buruk. Ketika orang membutuhkan sesuatu, kalau ia bisa membantu, pasti akan dibantu olehnya. Kalau kalian membayangkan orang ini dari kata-kataku tadi pasti terbayang seseorang yang sangat baik.

Tapi taukah kawan (Andrea Hirata banget! “Taukah kawan?”), kalau dibalik kebaikan hatinya, dia memiliki semacam trauma. Seseorang pernah menyakiti hatinya. Mungkin teramat sakit. Sampai hati yang lembut itu tak ingin mengenal lagi seseorang yang menyakitinya itu.

Aku berpikir, koq bisa orang sebaik ini merasa sangat sakit hati sampai mungkin terdapat “dendam”? Ternyata, selidik punya selidik, orang yang menyakitinya itu tak pernah merasa bersalah dan meminta maaf padanya.

Maaf.

Terdengar sangat sederhana.

Tapi ternyata memiliki makna yang sangat dalam.

Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang mungkin telah kita sakiti hatinya tanpa kita sadari atau tidak?

Ayolah sahabat, ucapkanlah kata maaf itu. Sebelum semuanya terlambat. Biar semua duka yang ada bisa kita hapus bersama. Meminta maaf takkan menjadikanmu lebih rendah atau lebih hina. Meminta maaf dan mengakui kesalahan adalah suatu perbuatan yang mulia. Jadi kenapa harus malu?





terserahlah

23 04 2008

Kau selalu berkilah.

Sehingga, selalu aku yang kalah.

Bisakah sekali saja kau mengaku salah?

Ah, terserahlah!





dia

21 04 2008

Dialah muslimah yang mencemburukanku.

Karna Kau begitu menjaga dan menyayanginya…

Apakah Engkau menyayangiku seperti itu juga Ya Rabbi?





Dream as if You’ll Live Forever

19 04 2008

dream

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”

-Arai-

It is hard to fail, but it is worse never to have tried to succeed

-Theodore Roosevelt-

Entah berapa banyak lagi kata-kata atau petuah dari orang-orang yang memberi kita semangat untuk bermimpi, berbuat dan meraih kesuksesan. Kenapa hal ini dianggap begitu penting? Karena setiap manusia pasti mempunyai mimpi. Bedanya, ada yang mempunyai mimpi kemudian berusaha mewujudkannya dan ada yang mempunyai mimpi tetapi hanya membiarkannya. Optimis dan pesimis.

Dalam teorinya “The Secret” dikatakan: ask, believe and receive.

Tahapan pertama kita disuruh untuk meminta, lalu tahapan kedua kita percaya dan yakin bahwa permintaan itu akan terkabul dan tahapan ketiga kita akan mendapatkan apa yang kita minta tersebut. Yang menarik dari teori ini bahwa kita harus percaya dan yakin. Dan itu tahapan yang paling sulit.

Semua orang bisa bermimpi. Semua orang bisa menerima atau mendapatkan apa yang diinginkannya. Tetapi yang paling sulit dan tidak semua orang bisa lakukan adalah percaya dan yakin akan mimpi-mimpinya tersebut. Banyak orang yang begitu pesimis dengan mimpinya.

Aku ingat sekali dengan perkataan seorang sahabat, “Aku mau seperti itu, tapi tak mau terlalu berharap, takutnya kecewa.” Sekarang yang ingin kutanyakan, bila keinginan kita tak tercapai, lepas dari kita terlalu berharap dan tak terlalu berharap, apa yang kita dapatkan? Sama-sama kecewa kan? Lalu kenapa tidak sekalian kita berharap saja? Hal itu akan memberi motivasi lebih dalam diri kita dibandingkan kita “setengah berharap”.

Beberapa hari yang lalu, aku beli buku “Catatan Hati di Setiap Sujudku” karangan Asma Nadia, dkk. Jujur, buku ini, seperti buku-buku Asma Nadia yang lain, benar-benar menginspirasi. Di buku ini dikisahkan beberapa cerita tentang pengalaman hidup orang-orang yang sudah merasa terjepit, tidak ada harapan, berputus asa dan kemudian karena keyakinan, mereka bisa kembali bangkit, menata harapan, dan meraih apa yang diinginkan.

Jangan naïf! Sering sekali muncul kata-kata itu dalam hati ketika kita bermimpi. Bagaimana bila mimpi itu tidak terwujud? Kita cuma manusia. Kita bisa berusaha tapi Tuhan juga yang menentukan. Ada satu ayat Al Quran dan satu hadist yang sangat kusuka yang juga dikutip di dalam bukunya Asma Nadia tersebut, yaitu:

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.’…” (Q.S. Al Mukmin : 60)

Dan…

Rasul saw. Bersabda “Setiap orang yang berdoa, niscaya akan dikabulkan. Mungkin segera dikabulkan di dunia, bisa juga dikabulkan di akhirat kelak. Bisa juga, karena berdoa, dosa-dosa orang itu akan diampuni, yaitu sesuai dengan kadar dosanya. Selama ia tidak memohon perbuatan dosa atau tidak dalam keadaan memutuskan tali silaturahim.”

Aku menyadari, sebagai manusia, kita juga tidak boleh melampaui batas. Kita juga harus percaya dengan Qadha’ dan Qadar. Bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia telah ditetapkan oleh-Nya. Tapi itu bukan alasan untuk menjadikan kita pesimis dengan impian kita. Selama mimpi itu tidak menentang-Nya, kenapa kita harus takut dan pesimis? Kita bisa meminta izin-Nya, Ya Mujiib, Yang Maha Mengabulkan, untuk impian kita. Kita berdoa kepadanya. Bersungguh-sungguh berusaha. Berikhtiar. InsyaAllah… Doa kita akan terkabul.

Hmmm… sekali lagi, Keyakinan. Betapa besar kekuatan dari keyakinan itu… Ayo sahabat, mari kita bermimpi. Lalu kita berusaha sambil berdoa. InsyaAllah….





…..

16 04 2008

Ketika penghianatan dianggap lumrah,
kebohongan itu kewajaran,
kekerasan merupakan pemecahan masalah,
dan kemunafikan adalah suatu kebanggaan…

Membuatku bertanya,

dimana rasa cinta, kasih dan kepercayaan itu?

Sekedar klisekah?

Di dunia ini,
kawan atau lawan,
sudah tak jelas lagi bedanya!

Lagi-lagi, hasil copy paste dari theothersideofme (Apr 16, ‘08 10:43 AM)
Maaf ya sahabat, diriku belum punya ide tulisan yang baru… Ada yang bisa ngasih inspirasi?





Kesendirian

16 04 2008

Dalam kesendirian ini,
Aku mulai menemukan duniaku..
Dalam kesendirian ini,
Aku mulai menemukan kebahagiaanku..

Aku berharap…

Suatu saat,
Aku menemukan diriku.
Dan menemukan Tuhanku.

*Hasil copy paste dari theothersideofme (Apr 14, ‘08 6:26 PM)





A Miracle Called Friendship

11 04 2008

“What is a friend? I will tell you it is someone with whom you dare to be yourself”

-Frank Crane-

friendship

Sebenarnya pada awalnya aku ga ada niat buat ngebahas tentang friendship. Malah aku punya niat buat ngepost bahasan-bahasan lain. Tapi ga tau, malah hari ini malah pengen sharing sedikit tentang sesuatu yang bernama “persahabatan”.

Apa sih arti persahabatan bagiku?

Sahabat adalah seseorang yang bisa diajak ngobrol apa aja. Mulai dari obrolan ringan kayak cerita gebetan, pacar sampai obrolan berat kayak ngomongin teorinya Anand Krisna bahkan bercerita tentang impian-impian hidup.

Sahabat juga seseorang yang bisa diajak melakukan apa aja. Mulai dari hal-hal tolol dan konyol (bahasanya Cakri, “ga mutu!”) kayak nyanyi-nyanyi lagu Spongebob sampai ke hal-hal serius kayak buat visi misi program KKN yang buat pusing (curcol nih! Hahaha).

Bagaimana kita bisa “berbagi” dengan orang lain tentang yang kita rasakan. Bagaimana kita bisa “menyatukan” isi dua kepala yang berbeda dan sifat-sifat yang berbeda tanpa merasa dilecehkan atau malah merasa paling benar. Itulah persahabatan.

Sahabat itu adalah seseorang yang dimana dari dirinya kita bisa belajar banyak hal. Andrea Hirata dalam buku-bukunya menunjukkan bagaimana dia bisa belajar banyak dari sahabat-sahabatnya seperti Lintang ataupun Mahar. Malah dalam tayangan “Kick Andy”, dia mengatakan bahwa perjuangan dia untuk belajar mati-matian sampai mendapat beasiswa ke Sorbonne karena “balas dendam” terhadap apa yang terjadi pada Lintang. Bagaimana diri Lintang bisa benar-benar menginspirasi dirinya untuk berusaha melakukan yang terbaik. Andaikata tulisan Andrea Hirata sekarang menginspirasi orang-orang, itu juga tak lepas dari peranan Lintang, seseorang sahabat yang menginspirasi dirinya. Itulah dasyatnya kekuatan persahabatan.

Persahabatan itu kualitas. Bukan kuantitas. Lamanya pertemanan bukanlah patokan dari kualitas persahabatan meskipun itu memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membangun suatu “emosi kelekatan” dan rasa kebersamaan.

Tapi lebih kepada pengertian.

Sahabat itu mengerti apa yang kita rasakan tanpa harus banyak berkata. Sahabat itu tau apa yang kita pikirkan tanpa harus banyak bertanya. Sahabat itu adalah seseorang yang mengangkat diri kita ketika kita jatuh. Memberi dorongan ketika kita merasa terpuruk. Menemani kita sewaktu kita susah. Menjadi perantara Allah untuk membuat kita kuat ketika cobaan datang.

Mulia sekali ya peranan seorang sahabat? Karena persahabatan adalah salah satu karunia Allah untuk umat-Nya.

Sayangilah sahabat-sahabatmu. Karena seorang bijak pernah berkata:

True friendship is like sound health; the value of it is seldom known until it be lost. (Charles Celeb Colton, 1825)

…Hakekat persahabatan itu seperti kesehatan; nilainya baru bisa dirasakan ketika kita kehilangan…

Untuk semua sahabatku, “terima kasih.” Karena telah menjadi perantara-Nya yang membuat diriku tidak merasa sendiri.





Homoseks

11 04 2008

logo

Pertama, saya ingin berkata kalau ini bahasan yang sangat berat bagi diri saya sendiri. Saya yang masih bodoh dan sangat awam mencoba untuk menulis tentang hal ini. Sedangkan ini adalah bahasan yang sangat sensitif.

Saya disini hanya mencoba untuk merangkum hal-hal yang saya dapatkan untuk menjawab pertanyaan seorang sahabatku. Suatu ketika, dia bertanya tentang ilmu psikologi.

“Apakah ilmu psikologi itu bertentangan dengan ilmu agama?” tanyanya.

“Mengapa?”

“Karna aku pernah punya temen anak psikologi, dan dia berkata bahwa homoseks itu adalah perilaku yang normal. Dan dia bersikukuh dengan pendapatnya itu.”

“Aduh, gimana ya? Aku binggung mau ngomong apa. Aku coba cari tau dulu ya?”

Hatiku percaya, bahwa setiap ilmu, itu asalkan itu memang berguna dan memberi manfaat bagi orang lain dan tidak menentang syariat, InsyaAllah tidak bertentangan dengan ilmu agama. Dan sebagai anak psikologi, saya merasa bahwa ilmu yang saya pelajari ini adalah ilmu yang bisa sejalan dan dijelaskan dengan ilmu agama. Wallahu’alam.

Tapi sekali lagi aya tegaskan bahwa saya disini berbicara sebagai orang awam yang pengetahuannya juga masih sangat terbatas. Saya hanya mencoba merangkum apa yang saya dapatkan dan ketahui untuk menjawab pertanyaan teman saya itu. Bukan untuk sok tau atau menghakimi. Dan sebagai tambahan, beberapa teori yang saya kutip disini adalah hasil copy-paste dari beberapa sumber.

Ok, balik ke bahasan homoseks.

Homoseksualitas adalah suatu kondisi ketika penderita memiliki ketertarikan erotik seksual terhadap jenis kelamin yang sama,

Pada awalnya homoseks dianggap sebagai perilaku menyimpang, tapi seiring dengan perkembangan waktu, pada tahun 70-an terdapat revolusi seksual yang membuat APA (American Psychological Assosiation) menyatakan bahwa homoseks adalah perilaku yang normal.

Nah mungkin keputusan APA inilah yang menyebabkan, temannya teman saya itu (dan beberapa pihak lain) bersikukuh untuk mengatakan bahwa homoseks adalah normal.

Tetapi ada sebuah artikel menarik dari sebuah artikel yang saya baca yang dimana berpendapat bahwa homoseks dapat diubah. Artikel itu ditulis berdasarkan buku Ex-Gays by: Stanton L. Jones, Prof. PhD and Mark A. Yarhouse, PhD Wheaton Collage, Illinois, USA; InterVarsity Press; 2007

Kurang lebihnya ditulis seperti ini:

…..

Riset-riset yang dilakukan sesudah itu cenderung diawali dengan suatu hypotesis yang mengatakan bahwa homoseks adalah normal, atau homoseks tidak mungkin diubah, maka tidak heran kalau kebanyakantulisan ilmiah tentang homoseks cenderung mendukung sikap dari APA tersebut.

Kenyataan Klinis:

Dalam kenyataan klinis, ada cukup banyak orang dengan orientasi homoseks yang tidak nyaman dengan kondisinya karena alasan nilai-nilai moral atau religius yang dianutnya, dan berjuang untuk berubah

Jumlah orang-orang yang BERHASIL mengalami perubahan dari orientasi homoseks menjadi heteroseks dari waktu ke waktu semakin banyak. Hal ini mengelitik dua Peneliti Senior dari Wheaton Collage , Illinois, USA yakni Stanton L. Jones, Proff. PhD and Mark A. Yarhouse, PhD untuk menelitinya

……

Hasilnya:

15 % dari respondent menunjukkan perubahan yang sangat bermakna, dimana mereka mengalami perubahan dari orientasi homoseks menjadi heteroseks, dan menyatakan bahwa mereka benar-benar mengalami pengalaman menjadi ciptaan baru. Mereka ini menyatakan sangat berbahagia dengan pernikahan heteroseksual mereka dan

menyatakan dapat berperan secara efektif sebagai pribadi dengan orientasi seks yang baru, yakni heteroseksual.

……

Untuk lebih jelasnya, sahabat bisa klik ke sini.

Jadi kesimpulannya, meskipun APA berpendapat bahwa perilaku homoseks adalah normal, tetapi banyak orang-orang dari kalangan ilmu psikologi yang menentang kebijakan tersebut.

Balik lagi ke permasalahan awal, bahwa tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan sahabat saya “Apakah ilmu psikologi itu bertentangan dengan ilmu agama?”, mudah-mudahan beberapa referensi di atas dapat mebantu menjelaskan bahwa ilmu psikologi tidak bertentangan dengan ilmu agama. Andai ada teori-teori yang diyakini sebagian orang bertentangan dengan ajaran agama maka saya sendiri berpendapat, itu hanyalah teori buatan manusia.

Otak manusia tidak akan sanggup untuk memahami ilmu Allah yang Maha Luas. Hanya itu yang dapat saya katakan. Kurang lebihnya saya minta maaf. Wallahu a’lam bishshawab.

*Sebagai referensi mengenai homoseks dipandang dari kajian Islam bisa klik disini.





Kamu itu.

8 04 2008

Kamu itu,
selalu begitu.
Tak pernah berubah.
Tetap saja menyebalkan.