
Pertama, saya ingin berkata kalau ini bahasan yang sangat berat bagi diri saya sendiri. Saya yang masih bodoh dan sangat awam mencoba untuk menulis tentang hal ini. Sedangkan ini adalah bahasan yang sangat sensitif.
Saya disini hanya mencoba untuk merangkum hal-hal yang saya dapatkan untuk menjawab pertanyaan seorang sahabatku. Suatu ketika, dia bertanya tentang ilmu psikologi.
“Apakah ilmu psikologi itu bertentangan dengan ilmu agama?” tanyanya.
“Mengapa?”
“Karna aku pernah punya temen anak psikologi, dan dia berkata bahwa homoseks itu adalah perilaku yang normal. Dan dia bersikukuh dengan pendapatnya itu.”
“Aduh, gimana ya? Aku binggung mau ngomong apa. Aku coba cari tau dulu ya?”
Hatiku percaya, bahwa setiap ilmu, itu asalkan itu memang berguna dan memberi manfaat bagi orang lain dan tidak menentang syariat, InsyaAllah tidak bertentangan dengan ilmu agama. Dan sebagai anak psikologi, saya merasa bahwa ilmu yang saya pelajari ini adalah ilmu yang bisa sejalan dan dijelaskan dengan ilmu agama. Wallahu’alam.
Tapi sekali lagi aya tegaskan bahwa saya disini berbicara sebagai orang awam yang pengetahuannya juga masih sangat terbatas. Saya hanya mencoba merangkum apa yang saya dapatkan dan ketahui untuk menjawab pertanyaan teman saya itu. Bukan untuk sok tau atau menghakimi. Dan sebagai tambahan, beberapa teori yang saya kutip disini adalah hasil copy-paste dari beberapa sumber.
Ok, balik ke bahasan homoseks.
Homoseksualitas adalah suatu kondisi ketika penderita memiliki ketertarikan erotik seksual terhadap jenis kelamin yang sama,
Pada awalnya homoseks dianggap sebagai perilaku menyimpang, tapi seiring dengan perkembangan waktu, pada tahun 70-an terdapat revolusi seksual yang membuat APA (American Psychological Assosiation) menyatakan bahwa homoseks adalah perilaku yang normal.
Nah mungkin keputusan APA inilah yang menyebabkan, temannya teman saya itu (dan beberapa pihak lain) bersikukuh untuk mengatakan bahwa homoseks adalah normal.
Tetapi ada sebuah artikel menarik dari sebuah artikel yang saya baca yang dimana berpendapat bahwa homoseks dapat diubah. Artikel itu ditulis berdasarkan buku Ex-Gays by: Stanton L. Jones, Prof. PhD and Mark A. Yarhouse, PhD Wheaton Collage, Illinois, USA; InterVarsity Press; 2007
Kurang lebihnya ditulis seperti ini:
…..
Riset-riset yang dilakukan sesudah itu cenderung diawali dengan suatu hypotesis yang mengatakan bahwa homoseks adalah normal, atau homoseks tidak mungkin diubah, maka tidak heran kalau kebanyakantulisan ilmiah tentang homoseks cenderung mendukung sikap dari APA tersebut.
Kenyataan Klinis:
Dalam kenyataan klinis, ada cukup banyak orang dengan orientasi homoseks yang tidak nyaman dengan kondisinya karena alasan nilai-nilai moral atau religius yang dianutnya, dan berjuang untuk berubah
Jumlah orang-orang yang BERHASIL mengalami perubahan dari orientasi homoseks menjadi heteroseks dari waktu ke waktu semakin banyak. Hal ini mengelitik dua Peneliti Senior dari Wheaton Collage , Illinois, USA yakni Stanton L. Jones, Proff. PhD and Mark A. Yarhouse, PhD untuk menelitinya
……
Hasilnya:
15 % dari respondent menunjukkan perubahan yang sangat bermakna, dimana mereka mengalami perubahan dari orientasi homoseks menjadi heteroseks, dan menyatakan bahwa mereka benar-benar mengalami pengalaman menjadi ciptaan baru. Mereka ini menyatakan sangat berbahagia dengan pernikahan heteroseksual mereka dan
menyatakan dapat berperan secara efektif sebagai pribadi dengan orientasi seks yang baru, yakni heteroseksual.
……
Untuk lebih jelasnya, sahabat bisa klik ke sini.
Jadi kesimpulannya, meskipun APA berpendapat bahwa perilaku homoseks adalah normal, tetapi banyak orang-orang dari kalangan ilmu psikologi yang menentang kebijakan tersebut.
Balik lagi ke permasalahan awal, bahwa tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan sahabat saya “Apakah ilmu psikologi itu bertentangan dengan ilmu agama?”, mudah-mudahan beberapa referensi di atas dapat mebantu menjelaskan bahwa ilmu psikologi tidak bertentangan dengan ilmu agama. Andai ada teori-teori yang diyakini sebagian orang bertentangan dengan ajaran agama maka saya sendiri berpendapat, itu hanyalah teori buatan manusia.
Otak manusia tidak akan sanggup untuk memahami ilmu Allah yang Maha Luas. Hanya itu yang dapat saya katakan. Kurang lebihnya saya minta maaf. Wallahu a’lam bishshawab.
*Sebagai referensi mengenai homoseks dipandang dari kajian Islam bisa klik disini.
Recent Comments