Sebelum aku memulai tulisan ini, sejujurnya aku merasa tidak pantas untuk menulis sesuatu tentang cinta. Aku hanyalah seorang pecundang dalam cinta. Ditambah lagi dengan gaya bahasa blog saya yang ‘aneh’, membuatku lebih tak percaya diri lagi untuk menulis. Terkadang aku pakai kata ‘saya’, kadang-kadang juga pakai kata ‘aku’, apakah aku akan menulis dengan kata ‘gue’? Sejak kapan anak Melayu ngomong ‘gue, loe, doi, doski’? (Andrea Hirata banget! hahahaha)
Sebelum aku menulis ini, saya berkunjung ke blog sahabat-sahabat,,, sebut saja, Nana, Akhi Fachry, Atok dll. Dan aku semakin sadar, aku payah dalam menulis. Kata-kata yang mereka tulis begitu indah dan mengalir. Sedangkan aku? Rumit dan susah dimengerti. Seperti jalan pikiranku… Tapi aku mencoba untuk tidak peduli. Ini blogku. Tempatku mengeluarkan uneg-unegku. Kemaren waktu aku foto studio bersama seorang sahabat, photografernya bilang kalau foto itu adalah karakter. Jadi Emel, berfotolah seperti Emel. Tidak usah meniru foto orang lain. Begitu juga dengan blog. Ini adalah blogku. Karakterku. Tidak usah meniru blog orang lain. Betul?
Kembali ke masalah cinta.
Di shoutout friendster sahabatku (sebut merk, Nana), ada kata-kata:
“Bukanlah Cinta jika hanya membuatmu ingin selalu bersamanya… Karena Cinta sesungguhnya membuatmu ingin selalu membahagiakannya.”
Setuju!!! Sumpah, aku setuju banget dengan kata-kata di atas. Aku merasa itulah cinta. Tak harus memiliki. Terdengar klise. Basi. Naif. Tapi itulah cinta. Kalau cinta itu tulus, dia tak akan menuntut. Meski tak selamanya mau menurut.
Ditambah lagi, Jumat kemaren, aku ngobrol sama Nana, tentang filosofi cinta yang berkata:
”Tak ada cinta bertepuk sebelah tangan. Karena tak ada seorang pun yang bisa menolak cinta. Yang mereka tolak, bukanlah cinta itu, tapi keinginan atau hasrat untuk memiliki.’
Lagi-lagi, setuju!!!
(Nana is cool,,, hehehe)
Tambahan basi lagi yang mau aku tambahin, cinta itu universal. Bukan cuma cinta antara pria dan wanita. Tapi juga cinta kepada diri sendiri, orang tua, saudara, sahabat, bahkan kepada Tuhan. Itulah cinta. Tapi cinta antara pria dan wanita itu sangat digembar-gemborkan. Seakan-akan cinta itulah yang paling berharga. Mengapa? Karna cinta itu dipengaruhi oleh nafsu, ambisi, hasrat, bahkan benci.
Bahasan tentang cinta itu takkan cukup kalau hanya untuk dituliskan di sebuah blog. Perlu beratus-ratus bahkan ribuan buku untuk menjelaskan tentang cinta. Tapi itu hanya bisa menjelaskan sepersekian dari cinta itu sebenarnya. Karena tulisan adalah buah pikiran. Sedangkan cinta bukan pikiran, bukan juga logika, tapi perasaan. Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa manusia itu adalah rasa bukan pikiran. Pikiran hanya alat dari rasa itu sendiri.
Konyol memang kalau mengingat cinta yang pernah terjadi di dalam diri kita. Kadang-kadang merasa bodoh, ”koq bisa ya aku…..” atau apalah. Tapi pikiran itu biasanya muncul ketika rasa itu sudah hilang. Barulah pikiran yang mengambil alih. Ketika logika sudah mulai jalan, barulah kita sadar, ”betapa bodohnya aku bla bla bla..”.
Hanya saja bagiku terkadang itu bukanlah kebodohan. Bukan kekonyolan. Setiap perjuangan (yang mengandung pengorbanan) adalah pembelajaran bagi kita. Bukankah kita akan selalu belajar selama hidup kita? Apalagi kalau perjuangan itu berasal dari hati dan diikuti dengan keikhlasan. Meskipun kalah, akan selalu indah untuk dikenang.
Recent Comments