Le site change d’adresse!

8 10 2009

Nouvelle adresse : http://emeldah.com

merci beaucoup!

 

Terima kasih untuk Sahabat yang suka berkunjung ke blog saya ini. Untuk sekarang, segala aktivitas yang berhubungan dengan tulis-menulis dari saya, saya pindahkan ke situs saya. Silakan klik disini. Terima kasih. :)





Shah Rukh Khan

1 08 2009

Assalammualaikum…

The King of Bollywood

The King of Bollywood

Wah, lama ga nge-blog, sekalinya nge-blog judulnya Shah Rukh Khan (SRK). Hehe Maafkan saya Sahabat, dikarenakan kesibukan, saya jarang sekali mengunjungi blog saya ini. Je suis desolee

Hmmm… Shah Rukh Khan. Kenapa terpikir untuk menulis tentang Shah Rukh Khan? Soalnya saya baru aja abis baca bukunya Beliau, yang judulnya “Shah Rukh Khan – The King of Bollywood” karangan Anupama Chopra.  Buat saya, buku ini luar biasa!

Buku ini bercerita tentang kisah hidup SRK, dimulai dengan cerita dia belum lahir alias cerita tentang percintaan ibu dan bapaknya, sampai kisah dia sukses seperti sekarang.  Hal yang membuat buku ini menarik adalah buku ini juga menggambarkan dengan sangat jelas tentang kehidupan masyarakat India.  Apa yang terjadi di India pada masa lampau, kehidupan politiknya (termasuk perseteruan dengan Pakistan), kehidupan sosial masyarakat disana, dan sejarah serta pengaruh industri film disana.

Banyak quote lucu di dalam buku ini. Beberapa terkesan mengejek, tetapi tetap saja menggelitik. Contohnya, ketika menggambarkan film India di tahun 1990an, penulisnya menulis:  “Tokoh utama pria, tanpa cedera, bisa menang berkelahi melawan 10 orang. Tokoh utama wanita, mengenakan rok mini trendi dan tarian menggoda, tapi tetap perawan sampai akhir film.”

Jujur, Bollywood berhasil memenangkan hati saya. Hehehe Saya sering kali menjadi bahan ejekan karna suka nonton India. Tapi, saya ga peduli. Lha orang suka, mau bagaimana lagi?? Kebiasaan menonton film India sudah saya alami sejak tahun 1998.  Tapi saya hanya suka menonton film India yang berasal dari tahun 2000an, bukan tahun di bawahnya.  Dan kebiasaan itu masih berlangsung sampai sekarang, meski sekarang saya lebih selektif dalam menonton.  Ya, saya memang penggembar film. Semuanya, asalkan bagus, tak peduli dari negara mana, saya suka. Terutama film bergenre drama, komedi, romantis.

Banyak hal yang saya suka dari film India.  Film India itu biasanya sangat menjujung tinggi norma.  Seks bebas adalah hal yang tabu untuk ditampilkan (meskipun sekarang film2 India yang mengangkat hal ini semakin banyak).  Seorang anak biasanya terkenal sangat “nurut” sama orang tua, restu orang tua adalah segalanya.  Mereka juga terkenal sangat cinta tanah air, meskipun telah mengecap kehidupan di dunia barat.  Dan bagian yang paling saya suka adalah “happy ending!”.

Sangat jarang film India yang berakhir sad ending.  Everything seems unrealistic,  But some people love it! Ya itulah film India.  Bagi saya, “happy ending” adalah salah satu bentuk rasa optimis.  Meski terkadang terkesan naif, tapi inilah dunia hiburan.  Jadi biarkanlah film India menghibur dengan caranya sendiri.

Life is like a film, it always has a happy ending and if there is no happy ending it means that the film is not done yet.

(Quote from film: “Om Shanti Om”- 2007)





Nama

4 06 2009

Emeldah.
Namaku Emeldah.

Pertama kali orang mendengar, mungkin akan terasa aneh.  Sejarahnya, nama ini diberikan karna aku dilahirkan pada zaman Imelda Marcos, First Lady of the Philippines, dan mungkin pada saat itu ortuku berpikir, kalau Imelda adalah nama yang keren. Dan kenapa berubah menjadi Emeldah? Hmmm… Itu kesalahan teknis sepertinya, Saudara-Saudara!

Lucunya, nama ini sedikit banyak mempengaruhi jalan hidupku. Aku ingat, sewaktu aku SMP, ketika MOS (Masa Orientasi Siswa), kakak kelasku mengabsen nama kami satu per satu.  Tiba giliran membaca namaku, kulihat dengan jelas (waktu itu aku duduk di bangku paling depan), dia mengerenyitkan dahi tanda tak yakin, “e-mel-dah”

Lalu, banyak kejadian-kejadian lainnya menyangkut namaku ini.  Mulai dari beberapa anak suka memplesetkan namaku, sampai kejadian-kejadian aneh lainnya yang malas untuk aku ceritakan. Hehehe Dan kejadian-kejadian itu juga menyebabkan aku sedikit malas untuk menyebutkan namaku. Bukan malu, bukan. Aku cukup senang lho dengan nama ini, unik dan ‘ga pasaran’. :) Tapi aku cuma malas menyebutkan nama ini berulang kali, karna orang sering kali salah mengejanya.

Sebagai contoh, ketika sedang melakukan transaksi, mbak/mas pelayan toko akan bertanya, “atas nama siapa Mbak?” Lalu seperti biasa, aku menjawab, “Emeldah” atau “Emel”.  Trus dijawab lagi, “Maaf?” atau “Imelda?” atau “Amel?” Lalu aku akan menjawab lagi, “Pake E. Pake E” huufff….

Itulah alasan kenapa ketika aku pergi dengan sahabatku, aku lebih suka menyebut nama mereka.  Contoh, waktu pergi karoke bersama Rima.  Mbak Happup, “Atas nama?”.  Aku, “Rima.” Selesai urusan! Atau waktu pergi bersama anak-anak Sumringah.  “Atas nama?” “Sari!”.  Yang lumayan sering ditanya ulang itu kalau, “Atas nama?” “Cakri.” “Maaf?” “Cakri.” :p (peace Shin…!)

Pernah juga seorang sahabatku bertanya, “Koq namamu singkat? Cuma satu kata? Emang nama kakak-kakakmu juga singkat-singkat?” Trus aku jawab, “Nama kakak perempuanku, Yuliana.” Dia bertanya lagi,”Yuliana? Yuliana aja?”. Aku jawab, “Iya.”. Trus dia bilang, “Wah ortumu ngirit ya klo ngasih nama?” Aku jawab, “nama kakak sulungku, Joni. Cuma empat huruf, J-O-N-I.”

Kalau Sahabat lihat di halaman facebook-ku, nama kakakku sudah jadi Yuliana Fasha. Keren ya? Fasha adalah nama suaminya. Mungkin suatu saat nanti aku akan mengganti nama papaku (Suwandi) dengan nama Harlino. Emeldah Harlino. Hahahaha Trus, nama kakak sulungku, Joni Bae.  “Bae” itu dalam bahasa Palembang berarti “Aja”.  Tapi aku cukup senang dia menambahkan “Bae” dibelakang namanya.  Kalau orang yang tidak tahu arti kata “Bae” mungkin akan mengira kalau kami masih saudaraan dengan aktor Korea, Bae Yong Jun.

Bicara tentang nama, dan karna baru saja menonton Gilmore Girls Season Finale, aku jadi ingat percakapan lucu antara Rory dan Lorelai ketika Lorelai menikah dengan Christopher Hayden (ayahnya Rory).

Rory: “Hey, you didn’t take dad’s name, did you?”
Lorelai: “No. No. ‘Hayden?’ No. I don’t want to be Mrs. Hayden planetarium for the rest of my life. I’m Lorelai Gilmore, okay? Lorelai Gilmore without the ‘Gilmore’ is like… Gil, you know, less.”

Ya, nama adalah sebuah identitas.  Orang memanggil kita dengan nama kita.  Orang mengenal kita dengan nama itu juga.  Itulah alasan mengapa aku menyayangi namaku.  Nama Emeldah.  Yang terdengar aneh untuk pertama kali.  Emeldah, yang kalau kata buku nama, berdekatan dengan nama Melda, yang berarti prajurit wanita. Nama adalah doa.

Aku percaya, nama dan artinya itu penting.  Dan yang lebih penting adalah bagaimana kita memaknai doa yang ada di dalam nama itu.  Bahkan jika kita tidak tahu apa arti dari nama kita, maka biarlah kita yang memaknai nama itu.  Yaitu dengan perilaku kita, sehingga ketika nama itu disebut, orang akan mengingat hal-hal yang baik.  Seperti personil band Letto yang mengatakan, bahwa Letto itu berarti tanpa arti.  Jadi biarlah mereka yang memaknai filosofi dari nama tersebut.

Dulu, nama yang populer di Jerman adalah Adolf.  Tapi sejak terkenalnya Adolf Hitler, maka nama itu menjadi kurang kepopulerannya, bahkan menjadi sangat jarang dipakai.  Siapa yang tidak kenal Muhammad? Nama Rasul SAW yang sangat populer.  Bahkan kata salah seorang sahabatku, di Arab ada suatu hari yang bernama “Muhammad’s day”, yaitu dimana orang-orang bernama Muhammad berkumpul di suatu taman, dan saling memanggil “Hey Muhammad!”

William Shakespeare pernah berkata, “Apa artinya sebuah nama?”  Tapi aku percaya, nama memiliki sebuah arti penting.  Islam mengajarkan umatnya untuk memberi nama yang baik pada anak yang baru lahir, tidak memberi nama yang buruk, dan menukar nama yang buruk dengan nama yang baik.

“…Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk …” (QS. al-Hujuraat : 11)





Nge-blog itu Asik!

3 05 2009

Pagi!!!!!

Pa kabar Sahabatku sekaliaaaannn???

Semoga dalam keadaan sehat dan LUAR BIASA!!!

Hmmm…. Mungkin dari cara penulisanku hari ini temen2  menyangka klo aku lagi seneng… Hummm…. Ga juga koq, biasa aja… Hanya saja, aku mencoba mensyukuri setiap hari yang datang padaku… Betul?? Resepnya, dimulai dengan bangun pagi (bangun siang lebih tepatnya!), lalu tersenyum di cermin. Sambil membayangkan hal-hal indah yang akan kita alami sepanjang hari nanti…

Dan senyumnya juga bukan sembarang senyum lho… Menurut trainer favorite ku, yang telah membantu banyak dalam jalannya pelatihan skripsiku, senyum itu ada resepnya, yaitu 2-2-7. Senyum dua centimeter ke kiri, dua centimeter ke kanan, dan ditahan tujuh detik. Mari kita coba bersama-sama sekarang! Tiga… Dua… Satu…. Senyuuuummm!!!

Sebenarnya aku ga tau mau nulis apa ini. Ide ku juga masih menggumpal di otak, belum ‘turun’…. Tadi aku mencoba buat cari inspirasi ke blog tetangga, tempatnya Nana, Akhi, Dunk-Dunk dll… Tapi pada ga ada postingan baru…. Kalian kemana teman2?? Dan hal yang kusadari, banyak teman2ku yang vakum dari dunia per-blog-an gara2 facebook! Hmmm… Dasar!

Tapi Sahabatku, tau kah kalian, kalau aku menemukan suatu perumpamaan tentang blog dan facebook?? Hmmm… Aku mengibaratkan facebook itu ibarat mall, suatu tempat yang mengasyikan, letaknya dekat dengan rumahmu, dan disana kamu bisa menemukan berbagai macam kesenangan.  Disana juga kamu akan bertemu dengan banyak orang, dan beberapa orang yang kau temui itu, bisa jadi adalah temanmu.  Dan blog itu ibarat Disneyland! Ok, lebay ya? Ibarat Dufan deh… Letaknya lumayan jauh dari rumahmu (apalagi buat kamu yang ga tinggal di Jakarta), kamu tidak terlalu sering pergi ke sana, tetapi sekali kamu kesana, akan terasa sangat mengasyikan.

Ngerti ga maksudku?? hahahaha aku juga ga ngerti n ga jelas ini ngomong apa… Aku ngetik ini sambil maen Sorority Life di Facebook,,, yang pasti, aku cuma mau bilang, nge-blog itu asyik… Kayak ke Dufan!!! Ayo teman2, mari nge-blog lagi!!!





The Sims 2

29 04 2009

The Sims 2

The Sims 2

Assalammualaikum….

Apa kabar sahabatku semua?? Mudah-mudahan baik ya…. Klo ga baik, ayo sini… Duduk manis depan layar, sambil baca blogku pasti langsung jadi baik…. :)

Hmmm… Lama ga nge-post… Kangen sama kalian semuaaa… Apa kalian kangen sama aku?? Ah, ga usah malu2 gitu napa?? Kangen ya bilang aja kangen… Aku  jomblo kok, dijamin ga ada yang marah… (Lho kok malah jadi promosi gini?? hohohoho)

Ok,,, langsung yaaa….

Sahabatku, ada ga diantara kalian yang suka main The Sims 2?? Ok, buat yang idup di jaman batu, tau game The Sims 2 ga?? Hohoho Game ini punya nilai history lho dalam hidupku.  Cerita bermula ketika aku baru aja kuliah Psikologi semester 1-2, aku ketagihan main game ini. Bisa sampe 8 jam perhari. Itu sebabnya awal-awal kuliah, aku sama sekali bukan mahasiswa yang aktif.  Habis kuliah, aku pasti pengen langsung pulang ke rumah, ketemu Raehan (my son!) plus pengen main The Sims 2.  Inget banget, dulu kalau lagi maen The Sims 2 sampe lupa waktu.  Biasanya sih gantian sama Cece & Selin. Tapi tetep aja, berada di dekat komputer.  Kalau aku yang main, Cece pasti duduk di sampingku.  Kalau Cece main, aku yang duduk di sampingnya. Gimana?? Bener-bener Sims-minded deh! Parah!

Di The Sims 2, kita akan menjalankan ‘kehidupan’ yang kita ciptakan sendiri. Misalnya, membagun rumah yang kita inginkan, memperoleh pekerjaan yang kita inginkan, mempunyai pasangan hidup yang kita inginkan,  dan lainnya… Benar-benar seperti kehidupan nyata, ada waktu makan, bobo, olahraga, kuliah, kerja, pup (oops!) dan lainnya….

Apalagi dalam The Sims 2 juga ada pilihan aspirasi (aspiration).  Aspirasi ini menurut pandanganku adalah sisi psikologis yang ditonjolkan dalam game ini yang membuat The Sims bener-bener mirip sama kehidupan nyata!  Aspirasi ini merupakan kata lain dari kepuasan hidup.  Kita akan mempunyai keinginan (want) yang berisi tentang keinginan-keinginan yang kita lakukan.  Bisa jadi keinginan itu merupakan keinginan kecil seperti “pengen makan roti bakar” atau keinginan besar seperti “pengen punya 10 anak!”.  Selain keinginan, kita juga punya  ketakutan (fear).

Ada enam jenis dari aspirasi game ini:

  • Family (befriending family members, marrying and raising a large family)
  • Fortune (wealth and prestige)
  • Knowledge (skill enhancement and life experience)
  • Popularity (making friends and socializing)
  • Romance (having many romantic relationships with as many people as possible).
  • Pleasure (wanting to live an enjoyable life –> With the Nightlife expansion).


Ok, berbicara tentang aspirasi, apa aspirasi hidupmu?? Ayo, coba pilih dari enam aspirasi di atas!

Klo aku sendiri sih ngerasa kalau diriku merupakan gabungan dari keenam-enamnya! Ya iyalah,,, dalam ilmu psikologi pun manusia merupakan gabungan dari berbagai aspek (Inget kuliah Inventori Teman-teman?? Hohoho).  Tapi ada beberapa aspek yang dominan di dalam diri kita.  Kalau dari game The Sims, mungkin (mungkin lho…), aspek yang lumayan dominan dalam diriku adalah Popularity, Family and knowledge! Walaupun bukan berarti romance, fortune and pleasure itu ga penting!

Aspirasi yang paling sering aku mainkan klo lagi main The Sims adalah Family & Romance. Dan aspirasi yang paling tidak suka aku mainkan adalah Pleasure.  Gimana bisa suka, keinginan Sims (nama lain dari “orang” dalam game ini)  yang memiliki aspirasi ini sangat ga menantang.  Cuma pengen main kartu, makan sandwich, nge-date (tapi ga mau serius berkomitmen), berhenti kerja, bolos kerja, bolos sekolah… Dengan kata lain, Sims yang punya aspirasi ini mirip banget sama orang malas yang ga punya tujuan hidup yang jelas.

Coba sekarang Sahabat pikir, dalam game komputer ini pun sangat ga enak dimainkan jika ga ada tujuan yang mau dicapai, apalagi dalam kehidupan sebenarnya.  Betul?? Maka dari itu, mari kita bersama-sama menyingsingkan lengan baju, ambil bolpen dan kertas. Tulis tujuan hidupmu! Mau jadi apa kamu??  5 tahun lagi, 15 tahun lagi, 25 tahun lagi dst.

Mengutip kata-kata di training ESQ, ada tiga jenis visi dalam hidup. Short-Term Vision.. Do the best all the time! Kita lakukan yang terbaik dalam hidup. Belajar sungguh-sungguh, bekerja sungguh-sungguh, sebagai bukti tanda pengabdian kita pada Allah. Mid-Term Vision.. Membangun peradaban! Ayo kita buat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik, amin. Dan Long –Term Vision.. adalah bertemu Allah di surga kelak.  Amin Ya Rabbal Alamin.

Semangad!

Wassalammualaikum wr. wb.





5 cm

24 03 2009

17.00 WIB 23/03/09

Sekitar setahun yang lalu, aku sering sekali menulis tentang mimpi dan impian.  Aku, pada saat itu, dengan gamblangnya menuliskan tentang pandangan dan cara pikirku tentang mimpi.  Optimisme dan semangat mengebu-gebu juga terlukis dengan jelas di tulisanku, perkataanku dan perilakuku.

Sore ini, setelah banyak hal yang aku alami, aku merasa aku sedang di uji.  Kemarin, aku adalah seorang pemimpi.  Seorang mahasiswi dengan berjuta mimpi.  Banyak hal yang aku lakukan untuk mencapai mimpi-mimpiku. Kadang aku merasa menang, tapi tak jarang aku merasa kalah. Dan mungkin berbagai “kekalahan” dan hambatan-hambatan yang aku alami sekarang sudah mulai bertumpuk.  Aku merasakan susahnya meraih mimpi-mimpi itu.

Contoh mimpi yang pertama, gelar sarjana.   Nah, untuk memenuhi gelar sarjana itu, maka ada satu syarat sakral yang harus aku kerjakan. Skripsi.   Tahukan teman, aku sedang merasakan banyak hambatan dalam proses penulisan skripsiku.  Mulai dari keluguanku menulis ilmiah.  Kaliah tau, aku sampe harus diajari dari S-P-O-K oleh DPS ku pada awal proses pembuatan proposal.  Sekarang, proposal sudah rampung.  Tepatnya, pada bulan November 2008.

Selepas itu, aku harus membuat modul pelatihan.  Karna ketidaktahuanku susahnya membuat modul pelatihan yang berdasarkan kajian ilmiah, aku nekad mengambil tema pelatihan.  Dan alhamdulillah modul itu pun rampung dengan bantuan berbagai pihak.

Kemudian kesulitanku sekarang, mencari perusahaan yang merelakan karyawannya menjadi subjek penelitianku. Bayangkan teman, aku ke perusahaan A, sudah punya janji bertemu, ternyata di cancel.  Bapaknya sibuk.  Lalu aku ke perusahaan B, alhamdulillah, bagian personalianya sangat ramah dan terlihat tertarik dengan niatku.  Beliau berkata, aku silakan menunggu konfirmasi dari perusahaan paling lambat Sabtu siang karna beliau harus mendiskusikan hal ini dengan the-big-boss.   Dan sekarang, Senin sore, aku belum dapet kepastian (Ok, I’ll wait! Sabar Mel….).  Sebagai informasi, aku membutuhkan dua perusahaan, bukan satu.  Satu untuk penelitian, satu untuk uji coba penelitian.

Dan untuk uji coba penelitian, aku mencoba ke perusahaan C.  Tadi siang aku kesana, setelah mondar-mandir mencari alamat kantor yang tak berplang nama itu dan yang jauuuuhhh banget juga, aku bertemu dengan seorang mbak yang juteknya minta ampun.  Sabar Mel, sabar…  Dan besok, aku berencana bergeriliya ke perusahan D, E, atau F. Dan aku juga sudah menghubungi beberapa perusahaan, sebut aja G, H, I atau J via telepon.  Dan hasilnya juga, waduh… Ada yang tak berbalas, ada yang malah disuruh ke Semarang. Sampe aku mikir, “Segitu susahnya ya klo kita ga punya ‘orang dalem’?”

09.00 WIB 24/03/09

Hummm… Akhirnya setelah tidur yang lamaaa… Aku merasa agak baikan.  Kemaren tulisan ini sempet terhenti karna aku merasa agak ga enak badan.  Huff… Tapi semalem seneng banget.  Ada seorang sahabat dateng ke kos.  Kita ngobrol-ngobrol.  Dan dia memberiku semangat.  Bahwa aku tetap harus berjuang.  Bahwa aku tak perlu takut.  Ada Yang Maha yang akan selalu membantuku.

Yah… Klise memang.  Kata-kata yang sering kali kita dengar.  Tapi memang benar.  Dan hal itu sempat aku “lupakan” akhir-akhir ini.  Aku merasa “jauh” dari-Nya.  Sampai aku merasa sangat capek dan stres sendiri.  Aku bahkan tidak merasakan lagi makna dari ayat-Nya, Kun Fayakun.  Sejauh itukah aku dengan-Mu Ya Rabb?

Dan, mungkin beberapa dari temenku sudah tahu, kalau sebenarnya aku belum membaca buku yang berjudul 5 cm.  Tapi kok kali ini judul tulisannya 5 cm ?? Ya, karna sempet stres jadinya kemaren pulang dari kantor perusahaan C, aku mampir ke shoping.  Disana aku melihat buku 5 cm. Dan ga tau kenapa, kemaren waktu liat review di belakangnya, aku tertarik buat membeli.

Memang sih, aku belum selesai bacanya.  Baru sekilas.  Tapi dari prolog-nya, aku menyimpulkan bahwa buku ini juga menceritakan tentang mimpi.  Ada catatan dari penulisnya, Donny Dhirgantoro, ketika buku ini melewati cetakan kesepuluh (Yampun Mel, buku udah beberapa kali cetakan baru mau lo baca?? Kemana aja lo?? Hehehe).

setelah melewati cetakan kesepuluh…

Sebuah email dari seorang pembaca mengungkapkan, bagaimana 5 cm telah mengubah hidupnya dan membuat dia lebih berani mengejar ke depan mengejar mimpi-mimpinya. Bagaimana karena 5 cm dia merasa bahwa kita harus bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, karena masih banyak orang yang kurang beruntung daripada kita ……………..

5 cm telah melewati cetakan ke-10, sebuah pencapaian yang saya sendiri bingung untuk mempercayainya.  Saya secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan para pembaca yang telah meluangkan hatinya untuk 5 cm.  Pembaca yang telah menjadikan 5 cm seperti sebuah mimpi – sesuatu yang ada dan patut diperjuangkan.

………………

Jakarta, 13 Maret 2008

Setiap hari, yang terbaik… semoga

Donny Dhirgantoro

Jujur, kata-kata di atas benar-benar menginspirasiku.  Di samping support dari sahabatku semalam yang merelakan beberapa menit waktunya untuk memberiku semangat.  Seakan dia dikirim oleh Allah untuk mengingatkanku.  Tak ada sesuatu yang kebetulan bukan?

Ya, sekali lagi, mimpi.  Terkadang memang susah untuk dicapai.  Dengan berbagai macam hambatan.  Terkadang, kita kalah, kita menang.  Apapun hasilnya itu, yang pasti kita harus tetap percaya, bahwa Dia sedang mempersiapkan yang terbaik untuk kita.

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia. (Q.S. Al Baqarah: 117)





Luruskan Niat

19 03 2009

Tali Kokoh


(by: Salim A. Fillah)

membersamai orang-orang shalih
memang perintah Allah
memang keniscayaan bagi ikrar taqwa
***
tetapi meletakkan harapan
atau menggantungkan kebaikan diri padanya
pada sosok itu
adalah kesalahan
dan kekecewaan..
***
seorang sahabat berkata padaku
“aku ingin menikah
dengannya.. hanya dengannya..”
aku bertanya mengapa
“agar ia menjadi imamku..
agar ia membimbingku..
agar ia mengajariku arti ikhlas dan cinta
agar ia membangunkanku shalat malam
agar ia membersamaiku
dalam santap buka yang sederhana”
***
“ahh.. itulah masalahnya”, kataku
***
dan dia kini tahu
bahwa khawatirku benar.
bahwa sosok lelaki penyabar yang dia kenal
juga bisa marah, bahkan sering.
bahwa sosok lelaki shalih yang dia damba
kadang sulit dibangunkan untuk
shalat shubuh berjama’ah.
bahwa lelaki yang menghafal juz-juz Al Quran itu
tak pernah menyempatkan diri
mengajarinya a ba ta tsa..
***
“ahh.. itulah masalahnya”
***
semakin mengenali manusia
yang makin akrab bagi kita
pastilah aib-aibnya.
sedang mengenali Allah
pasti membuat kita
mengakrabi kesempurnaanNya.
***
maka gantungkanlah harapan
dan segala niat untuk menjadi baik
hanya padaNya
hanya padaNya..
***
jadilah ia tali kokoh yang mengantar pada bahagia dan surga.





Transgendered

13 03 2009

Pagi!!!

Ok… Abis nyasar dari blog seseorang yang tidak kukenal aku terinspirasi untuk menulis ini.  Dari judulnya, terlihat ‘berat’ ya? Ga kok, aku bukan mau ngebahas transgendered dari sisi psikologi yang sangat ilmiah. Karna aku inget kata-kata seorang temen yang bilang dia suka baca blogku tapi ga suka klo aku nulis tentang topik psikologi, berat katanya. Huuu dasar pemalas.  :p

Jadi inget adegan film Love,,,

Digambarkan Tere Wijaya (Luna Maya) dan Awin (Darius Sinathrya) sedang duduk berhadapan,,,

Action!!!

Awin: “Hidup itu bagaikan toko buku. Di dalamnya ada bacaan-bacaan ringan sampe bacaan berat.  Tapi kebanyakan orang dateng cuma untuk mencari buku yang ringan-ringan aja.”

Tere: “Kamu memang penulis! Aku nyerah!”

Cut!!!

Ok, kembali ke Transgendered. Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari obrolan dengan salah seorang sahabat. Dia bilang klo bintang iklan salah satu produk cream wajah yang dibikin bersambung kayak sinetron beberapa bulan lalu (bukan yang paling baru), model ceweknya itu bukan cewek, tapi cowok!!! Karna penasaran, jadi aku nyoba buat googling dengan keyword banci thailand.  Dan emang aku ga dapet hasil yang menguatkan gosip dari sahabat saya itu, tapi saya malah nyasar ke blog-blog dan situs yang membahas tentang hal itu. Dan ternyata benar, ternyata the-lady-boy dari Thailand itu emang cantik-cantik banget. Beberapa forum juga menyatakan bahwa emang sudah sering banget para the-lady-boy itu membintangi iklan-iklan produk seperti shampoo, pasta gigi, dan sebagainya. Dan malah di Thailand sendiri ada kontes untuk para lady-boy ini yang disebut dengan Miss Tiffany.

2006 Miss Tiffany winner Tong Rattawee

2006 Miss Tiffany winner Tong Rattawee

Sebenarnya tujuanku nulis ini, selain ingin berbagi sama beberapa temen yang masih belum tahu tentang hal beginian, juga pengen yaa sekedar bersuara (suara dengarkan akuuuu… lho kok malah nyanyi?) klo aku merasa agak miris dengan kenyataan bahwa banyak iklan yang memakai the-lady-boy sebagai bintang iklannya, tapi di sisi lain iklan itu setengah mengintimidasi para wanita dengan menanamkan pernyataan bahwa cewek cantik itu yang begini, begini, dan begini.. Hufff… Duniaaa memang panggung sandiwara. :)





Slumdog Millionaire

13 03 2009

Slumdog Millionaire

Slumdog Millionaire

“Emel sumpah keren nian film slum dog millionaire ^^ im crying”

Receive: 01:54:58, 06/03/2009

Sms itu aku terima  dari seorang sahabat, membuatku penasaran pengen nonton, seperti apa sih film ini?? Dan, di tengah sela-sela kesibukanku (sok sibuk…!!!), semalem aku nonton film ini… Dan ternyata benar!!! Yeah, you were right Honey, Slumdog Millionaire is a great movie!!!

Cerita bermula dari seorang bernama Jamal Malik (Dev Patel) yang ditahan polisi karena dituduh telah berbuat curang di kuis Who Wants to Be a Millionaire (Kaun Banega Crorepati). Tapi setelah itu, cerita film ini berlanjut ke flashback masa kecil Jamal yang membuat dia bisa menjawab satu persatu pertanyaan itu.  Film ini mengungkap sisi “hitam” kehidupan India dan benar-benar bikin hati terenyuh (terharu,, mengharu biru.. apalah itu!!).

Gimana engga, contohnya waktu di awal pertanyaan, ketika dia bisa menjawab nama Amitabh Bachan pada pilihan jawaban, itu disebabkan karna perjuangan masa kecilnya yang “euh…” (temen2 bisa nonton sendiri untuk mengartikan arti kata “euh…” ini, :p) untuk mendapatkan tanda tangan artis idolanya itu. Lalu cerita perjuangan dia meneruskan hidup dengan kakaknya (dan seorang sahabat perempuan, yang pada akhirnya menjadi wanita yang paling ia cintai) karna orang tuanya yang ikut mati terbunuh di peristiwa “1993 anti muslim attack“; sempat dimanfaatkan dengan gangster, hidup terlunta-lunta, mencuri, prostitusi dan semua sisi kelam kehidupan ia jalani.

Satu pesan moral yang tersirat,, bahwa ada yang namanya “takdir” dalam kehidupan kita. Seperti title card pada pembukaan film: “Jamal Malik is one question away from winning 20 million rupees. How did he do it? A) He cheated, B) He’s lucky, C) He’s a genius, D) It is written.” And the answer is, “D) It is written”





Sejuta Rindu Untuknya

1 03 2009

papa

Sekarang, ketika sedang mengetik kata-kata ini, pikiranku terbayang pada sesosok laki-laki yang sangat kusayangi.  Dia tidak tampan, tidak tinggi dan tidak gagah. Dia hanya seorang laki-laki biasa.   Dengan tinggi yang sedang, dengan tubuh yang mulai membungkuk, dan beberapa uban yang terlihat putih di rambutnya.

Laki-laki itu juga tak pernah memakai baju seragam kerjanya, karna ia bukanlah seorang pegawai.  Dia juga tak punya gelar, karna ia tidak pernah mengecap bangku kuliah.  Hanya tamat SD dan beberapa bulan mengecap bangku SMP. Tapi jangan kau tanya tentang pengetahuannya. Diaa memang tidak sepintar seseorang bergelar master,  tapi antusiasnya ketika bercerita tentang sejarah, politik, kehidupan, akan sama seperti kau melihat bayang-bayang seorang pengajar.

Laki-laki itu bukanlah seorang pemimpi.   Hanya seorang yang mempunyai integritas. Kejujuran dan ketekunan. Hal yang selalu dia tanamkan kepada anak-anaknya.  Karna dia ingin melihat setiap anaknya berhasil.  Meskipun dia tak pernah sekolah tinggi, dia sangat berharap setiap anaknya pulang  dengan menyandang gelar sarjana. “Jadilah orang pintar!” itu katanya.

Dia tak pernah bicara banyak denganku.  Jujur, dia bukanlah orang yang enak untuk diajak curhat. Dia tidak mengerti apa itu internet, apalagi facebook. Tapi dia bisa ngetik sms lho, walau cuma untuk bilang “Dud, uang bulan ini sudah dikirim!”

Laki-laki itu unik.  Dia memberiku nama tanpa nama belakang. Sehingga dengan terpaksa, harus kutulis namanya di kolom Last Name sebuah formulir. “Curang!” Pikirku. Walau aku tahu dia tak punya maksud begitu.

Laki-laki itu selalu kubayangkan kehadirannya.  Pada setiap khayalku tentang kelulusan, wisuda, pernikahan dan beberapa momen penting lainnya. Ya wajar saja, dia adalah seseorang yang rutin bertanya, “Apa kabar Nak? Gimana kuliah? Kapan lulus?” Atau, “Gimana, udah punya calon belum?”

Ah, laki-laki itu. Laki-laki yang sering membuatku menangis. Bukan karna amarahnya. Karna dia sangat jarang marah. Bukan juga karna kecerewetannya.  Meskipun dia juga sangat cerewet.

Laki-laki itu, sering membuatku bersedih karna aku merasa belum bisa membahagiakannya.  Karna aku merasa masih sering menyusahkannya.  Karna aku tetaplah anak bungsunya yang manja.

Ya Allah, tolong jaga laki-laki itu.Bahagiakan hidupnya.  Karuniakan kesehatan padanya. Ridhoi  setiap langkahnya.
Beri kesempatan pada hamba untuk membuat dia bangga, ketika dia melihat diri ini dalam balutan toga atau pun gaun pengantin.
Beri kesempatan pada hamba untuk membuat dia bangga, ketika dia melihat diri ini sedang bersiap-siap pergi berangkat ke tempat kerja.
Beri kesempatan pada hamba untuk membuat dia bangga, ketika di tangannya terbaring buah hati diri ini yang ia panggil dengan sebutan cucu.
Beri kesempatan pada hamba Ya Rabb, untuk pergi ke rumah-Mu bersamanya.
Amin, Ya Rabbal Alamin.